Outlook Utang Indonesia ke Negatif, Soroti Program Makan Bergizi dan Defisit 2026

MBG-Utang-Indonesia-Gibran
Lembaga Fitch Ratings pangkas prospek utang RI jadi negatif. Soroti risiko defisit APBN 2026 sebesar 2,9% akibat program Makan Bergizi Gratis dan target pertumbuhan 8%. (Dok. Sekretariat Negara)

Faktakalbar.id, NASIONAL – Lembaga pemeringkat internasional Fitch Ratings resmi merevisi prospek (outlook) utang jangka panjang Indonesia dari “Stabil” menjadi “Negatif”. Meskipun peringkat utang Indonesia tetap ditegaskan pada level ‘BBB’, perubahan prospek ini memberikan sinyal waspada terhadap kesehatan fiskal nasional di tengah ambisi pertumbuhan ekonomi yang tinggi.

Dalam laporan resminya yang dirilis Rabu (4/3/2026), Fitch memproyeksikan defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) pada tahun 2026 akan menyentuh angka 2,9% terhadap produk domestik bruto (PDB). Proyeksi ini lebih tinggi dibandingkan target yang dipatok pemerintah sebesar 2,7%.

“Hal ini mencerminkan asumsi pendapatan kami yang lebih konservatif dengan proyeksi pertumbuhan yang melambat dan dampak jangka pendek yang moderat dari upaya untuk meningkatkan kepatuhan pajak,” tulis laporan Fitch Ratings.

Salah satu poin krusial yang disoroti adalah beban belanja sosial, terutama Program Makanan Bergizi Gratis (MBG). Fitch memperkirakan total anggaran program ini mencapai 1,3% terhadap PDB pada periode 2025-2029.

Baca Juga: MBG Dinilai Mencederai Masyarakat Miskin, Kritik Terus Bergulir

Tekanan fiskal semakin nyata karena rendahnya mobilisasi pendapatan negara yang diperkirakan hanya rata-rata 13,3% terhadap PDB, jauh di bawah median negara peringkat ‘BBB’ yang mencapai 25,5%.

Kondisi ini diperparah dengan melemahnya penerimaan pajak sepanjang 2025. Selain karena lesunya serapan pajak, pengalihan dividen BUMN ke Danantara secara permanen senilai 0,4% terhadap PDB turut membatasi ruang fiskal pemerintah.

Di sisi lain, Fitch mencatat adanya peningkatan ketidakpastian kebijakan seiring ambisi pemerintah mengejar target pertumbuhan ekonomi 8%.

Fokus yang berlebihan pada target tersebut dikhawatirkan akan melonggarkan koordinasi kebijakan fiskal dan moneter yang selama ini terjaga.