5 Pola Asuh Parenting yang Membuat Anak Merasa Cukup Kasih Sayang hingga Dewasa

"Terapkan 5 pola asuh parenting ini sejak dini agar anak tumbuh menjadi pribadi yang bahagia, bermental tangguh, dan merasa cukup kasih sayang saat mereka dewasa kelak."
Terapkan 5 pola asuh parenting ini sejak dini agar anak tumbuh menjadi pribadi yang bahagia, bermental tangguh, dan merasa cukup kasih sayang saat mereka dewasa kelak. (Dok. Ist)

Faktakalbar.id, LIFESTYLE – Masa kecil adalah fondasi yang akan membentuk karakter dan kondisi psikologis seseorang di masa depan.

Anak-anak yang tumbuh di lingkungan penuh cinta cenderung memiliki inner child yang sehat dan terhindar dari krisis identitas saat beranjak dewasa.

Mereka akan tumbuh menjadi pribadi yang merasa “cukup” dan tidak haus akan validasi dari luar.

Untuk menumbuhkan secure attachment atau ikatan emosional yang kuat tersebut, peran orang tua sangatlah krusial.

Bukan sekadar memberikan materi, melainkan pemenuhan kebutuhan emosional.

Baca Juga: Buka Seminar Parenting, Bahasan Tekankan Penguatan Pendidikan Karakter di Era Digital

Berikut adalah 5 pola asuh parenting yang bisa diterapkan agar anak merasa cukup kasih sayang hingga mereka dewasa nanti:

1. Validasi Setiap Emosi Anak

Anak-anak sering kali belum pandai mengelola perasaannya, sehingga kerap berujung pada tantrum.

Alih-alih membentak atau menyuruh mereka berhenti menangis, cobalah untuk memvalidasi emosinya.

Ucapkan kalimat seperti, “Adik marah ya karena mainannya rusak? Boleh kok sedih, Ibu temani ya.”

Dengan mengakui perasaannya, anak akan merasa didengar, dihargai, dan belajar bahwa emosi negatif pun valid serta aman untuk dirasakan.

2. Berikan Kehadiran Penuh (Mindful Presence)

Kasih sayang tidak selalu diukur dari durasi waktu yang dihabiskan bersama, melainkan kualitasnya. Saat sedang bermain atau mengobrol dengan anak, jauhkan gadget dan fokuslah sepenuhnya pada mereka. Lakukan kontak mata dan dengarkan cerita mereka dengan antusias. Kehadiran utuh secara fisik dan mental ini akan terekam dalam memori anak bahwa mereka adalah prioritas dan sangat berharga di mata orang tuanya.

3. Apresiasi Proses, Bukan Hanya Hasil

Sering kali orang tua hanya memuji anak saat mereka mendapat nilai bagus atau memenangkan lomba.

Padahal, memuji usaha (praising the process) jauh lebih penting.