Baca Juga: Cuaca Ekstrem Landa NTB: Angin Kencang di Lombok Tengah, Banjir Rendam Lombok Barat
Hal ini tercapai setelah tim reaksi cepat dari jajaran BPBD Kabupaten Lombok Tengah turun langsung ke lokasi bencana untuk melaksanakan langkah asesmen dan memberikan penanganan awal.
Kejadian cuaca ekstrem berupa angin kencang di wilayah Lombok Tengah ini turut menambah daftar panjang insiden hidrometeorologi yang dilaporkan ke Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB).
Merujuk pada data rekapitulasi dari Direktorat Koordinator Pengendalian Operasi (Dit. Koordalops) yang dihimpun dalam 24 jam terakhir hingga hari Rabu (4/3/2026) pukul 07.00 WIB, terkonfirmasi bahwa rentetan bencana hidrometeorologi basah dan efek dari cuaca ekstrem menjadi dua ancaman yang paling mendominasi grafik kebencanaan di Tanah Air.
Sebagai bentuk respons pencegahan atas tingginya potensi bahaya hidrometeorologi di berbagai daerah perbukitan dan pesisir, BNPB terus mengimbau seluruh elemen pemerintah daerah untuk segera meningkatkan level kesiapsiagaan aparatur dan sarana mitigasi.
Otoritas daerah diwajibkan untuk menjamin sistem peringatan dini berjalan optimal serta secara aktif memperkuat jalur komunikasi struktural dalam menyebarluaskan instruksi kewaspadaan kepada kalangan warga sipil.
Masyarakat yang bermukim di seluruh wilayah NTB pada khususnya, sangat diminta untuk selalu tanggap dan proaktif mengambil langkah antisipatif yang diperlukan apabila terjadi hujan lebat dengan durasi yang sangat panjang.
Bagi warga masyarakat yang terpaksa melangsungkan aktivitas di luar ruangan di tengah terjangan hujan deras yang disertai hembusan angin kencang, sangat disarankan untuk menjauhi area rindang atau pepohonan berukuran besar guna menghindari risiko fatal tertimpa dahan maupun pohon tumbang.
Baca Juga: Ribuan Rumah di OKI dan Lombok Barat Terendam, Status Siaga Darurat Ditetapkan hingga April
Di samping itu, guna menunjang kecepatan lalu lintas respons informasi, pemanfaatan alat komunikasi dan jejaring komunikasi digital dinilai menjadi unsur yang sangat krusial.
Jaringan interaksi seperti grup WhatsApp serta penggunaan alat komunikasi radio handheld transceiver yang dioperasikan penuh oleh pihak BPBD hingga menyentuh perangkat pemerintahan kecamatan dan desa merupakan pendekatan praktis yang terbukti sangat efektif untuk menyebarluaskan status peringatan dini kepada masyarakat akar rumput.
(*Red)
















