Ketika promosi jabatan atau kenaikan gaji lebih didasarkan pada seberapa “klik” atasan secara personal dengan bawahannya, maka wajar jika para karyawan akan berlomba-lomba mencari perhatian personal daripada meningkatkan skill profesional mereka.
4. Insecurity dan Persaingan Ketat
Di tengah persaingan karier dan ekonomi yang semakin ketat, rasa tidak aman (insecurity) kerap menghinggapi banyak orang.
Bagi mereka yang merasa kurang kompeten secara teknis, mencari muka adalah strategi bertahan hidup (survival kit).
Dengan membangun kedekatan personal dan selalu tampil sebagai “penyelamat” di mata pimpinan, mereka menutupi kekurangan kompetensi aslinya.
5. Kurangnya Ruang untuk Kritik Berbasis Bukti
Lingkungan yang memelihara para pencari muka biasanya adalah lingkungan yang alergi terhadap kritik.
Ketika seorang pemimpin lebih suka dikelilingi oleh pujian dan validasi, maka orang-orang yang kritis dan analitis akan tersingkir secara alami.
Ruang yang kosong ini kemudian dengan cepat diisi oleh mereka yang pandai membuai dengan kata-kata manis.
Mengubah Paradigma
Meski perilaku ini masih sering dijumpai, generasi pekerja modern saat ini mulai menuntut lingkungan kerja yang lebih egaliter dan berbasis meritokrasi (penilaian berdasarkan prestasi).
Menyadari bahwa budaya mencari muka hanya akan merusak sistem dan menghambat kemajuan adalah langkah pertama untuk menciptakan dinamika sosial yang lebih sehat dan profesional.
Baca Juga: Bukan Sekadar Gaji, Ini 5 Tanda Kamu Tidak Merdeka dalam Pekerjaan
(Mira)
















