Faktakalbar.id, LIFESTYLE – Dalam dinamika sosial dan lingkungan kerja di Indonesia, kita mungkin sering menjumpai sosok yes-man atau individu yang gemar menyetujui apa pun perkataan atasan demi mendapatkan simpati.
Istilah kasar yang sering disematkan untuk perilaku ini adalah “menjilat” atau “mencari muka“.
Fenomena ini seolah menjadi rahasia umum yang menjengkelkan bagi mereka yang bekerja keras dengan jujur, namun justru kalah pamor dengan si pencari muka.
Lantas, dari kacamata sosial dan gaya hidup, kenapa budaya cari muka dan menjilat ini terasa begitu lumrah dan tumbuh subur di masyarakat kita? Berikut adalah beberapa akar alasannya:
Baca Juga: Atasan Wajib Tahu! Ini 6 Ciri Karyawan Mau Resign yang Sering Tidak Disadari
1. Sisa Akar Budaya Feodalisme
Suka tidak suka, struktur masyarakat Indonesia mewarisi akar budaya feodal yang cukup kuat.
Dalam budaya ini, hierarki sangat dihormati, dan ada jarak kekuasaan (power distance) yang tinggi antara atasan dan bawahan, atau senior dan junior.
Hal ini menciptakan pola pikir di mana menyenangkan “Raja” atau pemimpin adalah jalan pintas paling aman untuk mendapatkan perlindungan, promosi, atau reward tertentu, dibandingkan sekadar mengandalkan kompetensi.
2. Mengutamakan “Harmoni Semu”
Karakter masyarakat komunal di Indonesia sangat mengedepankan kerukunan dan menghindari konflik terbuka. Sayangnya, hal ini sering kali melahirkan toxic positivity.
Banyak orang memilih menjadi people pleaser dan bersikap manis di depan atasan meski sebenarnya tidak setuju, semata-mata demi menjaga “harmoni”.
Sikap tidak enak hati (ewuh pakewuh) ini akhirnya berevolusi menjadi perilaku cari muka demi mengamankan posisi dalam suatu circle sosial.
3. Sistem Penilaian yang Subjektif
Budaya cari muka dan menjilat biasanya mekar dengan lebat di lingkungan toxic workplace yang tidak memiliki Indikator Kinerja Utama (KPI) yang jelas dan transparan.
















