“Ini bukan masalah Gen Z. Ini adalah kegagalan desain tempat kerja dan masyarakat,” tegasnya.
Bryan Driscoll menyoroti kurangnya fasilitas dari perusahaan untuk membangun koneksi antar karyawan.
“Tentu saja Gen Z menjadi generasi paling kesepian di tempat kerja. Mereka dilempar ke dunia kerja saat pandemi, orientasi lewat Zoom, dan diberi tahu bahwa utas Slack itu budaya perusahaan. Bukan mereka tidak ingin koneksi, tapi pemberi kerja tidak pernah memberi alat atau ruang untuk membangunnya,” katanya.
Tekanan Ekonomi dan Tuntutan Hidup
Rasa kesepian di tempat kerja juga berakar dari tekanan ekonomi. Alex Beene, yang mengajar literasi keuangan di University of Tennessee, mengatakan pekerja muda saat ini menghadapi tantangan finansial yang memperburuk keadaan.
“Ketika Anda mempertimbangkan semua tekanan ekonomi yang dihadapi Gen Z, mudah untuk melihat mengapa kesepian membebani mereka,” sebut Alex Beene.
Biaya hidup yang tinggi dan pasar tenaga kerja yang sulit membuat Generasi Z semakin rentan terhadap perasaan terisolasi.
“Ketika peluang profesional Anda suram, Anda menghadapi biaya hidup yang meningkat, dan media sosial memperlihatkan banyak orang yang tidak menghadapi kekhawatiran tersebut, Anda bisa dengan mudah jatuh ke dalam perasaan kesepian,” ucapnya.
(*Sr)
















