Pertama, Kopdes tidak memesan. Ia “disiapkan” pikap. Artinya keputusan datang dari atas. Kedua, siapa tanggung biaya perawatan? Pengalaman publik panjang. Banyak mobil dinas kinclong di awal, lalu mangkrak karena tak ada anggaran servis atau tak paham perawatan. Beli itu mudah. Rawat itu disiplin.
Netizen lalu menghubungkan titik-titik, proyek besar, dana APBN, pengadaan masif, jelang siklus politik 2029. “Apakah ini murni ekonomi desa, atau ada agenda elektoral jangka panjang?” Begitu bunyi komentar. Mereka khawatir koperasi dijadikan kendaraan, secara harfiah dan politis.
Bandingkan dengan komentar paling viral. “Yang bisa lawan ritel modern itu cuma Maduramart!” Tanpa APBN, tanpa pikap impor, tapi buka 24 jam, stok jalan, uang berputar. Sindirannya jelas. Sebelum punya 105 ribu mobil, pastikan dulu tokonya hidup.
Baca Juga: Angin Segar Ekonomi Desa: Pinjaman Rp3 Miliar Kini Terbuka untuk Koperasi Merah Putih
Netizen sebenarnya tidak alergi koperasi. Mereka alergi pada proyek tanpa transparansi. Mereka ingin tahu skema anggaran, mekanisme pengadaan, sistem pengawasan, dan siapa yang bertanggung jawab jika nanti bermasalah. Karena kalau benar ada komitmen fee tersembunyi, itu bukan cuma soal bisnis gagal, itu soal kepercayaan publik yang runtuh.
Namun di sisi lain, distribusi desa memang butuh armada. Tanpa kendaraan, rantai pasok bisa tersendat. Jadi persoalannya kembali ke tata kelola. Kalau transparan, profesional, diaudit ketat, kecurigaan akan surut. Kalau tertutup, isu 2029 akan terus menghantui.
Akhirnya, perdebatan Kopdes bukan cuma soal melawan ritel biru-merah. Ini soal kepercayaan rakyat terhadap uang negara. Mobil boleh 105 ribu unit. Pelatihan boleh di hotel berbintang. Tapi kalau publik merasa ada agenda tersembunyi, legitimasi bisa goyah sebelum roda pertama berputar.
Rakyat menonton dengan dua mata. Satu berharap koperasi bangkit. Satunya lagi mengawasi jangan sampai APBN jadi ladang permainan menuju 2029. Begitulah, wak. Di negeri ini, proyek besar tak pernah berdiri sendirian. Ia selalu ditemani harapan… dan kecurigaan.
Baca Juga: Dari Wakil Tuhan ke Tikus Got Gorong-gorong
Oleh: Rosadi Jamani, Ketua Satupena Kalbar
*Disclaimer: Artikel ini merupakan pandangan pribadi penulis dan tidak mencerminkan posisi resmi atau kebijakan redaksi.
















