OPINI – Gara-gara Mendes nyenggol Alfamart dan Indomaret akan ditutup bila Kopdes Merah Putih udah jalan, komentar netizen jadi ramai dan liar. Tulisan saya terkait itu sebelumnya terus menyala notifnya. Mau tak mau kita lanjutkan sambil menunggu beduk, wak! Koptagulnya ntar abis buka.
Sejak Kopdes Merah Putih digulirkan, publik sudah terbagi. Antara berharap dan mencurigai. Trauma lama muncul. “KUD zaman Orde Baru di era Soeharto saja hidup segan mati tak mau,” kata netizen. BUMDes pun banyak yang megap-megap. Sekarang Kopdes mau naik ring melawan Alfamart dan Indomaret yang sistemnya matang, rantai pasoknya kuat, SDM-nya terlatih?
Baca Juga: Dua Menteri Prabowo Saling Serang di Ruang Publik
Lalu masuk bab paling sensitif, APBN.
Netizen mulai berbisik lebih dalam. Bukan cuma soal profesionalisme, tapi motif. “Jangan-jangan ini upaya halus menggarong APBN demi Pemilu 2029?” Komentar ini berseliweran. Mereka curiga proyek raksasa dengan angka fantastis sering kali punya “biaya tak terlihat”. Istilah yang dipakai netizen lugas saja, komitmen fee. Katanya, yang namanya proyek APBN, apalagi skala nasional, pasti ada yang “ikut senyum” saat tanda tangan diteken.
Tuduhan ini tentu belum tentu benar. Tapi kecurigaan publik itu nyata dan keras suaranya.
Isu makin panas ketika muncul kabar melalui PT Agrinas Pangan Nusantara disiapkan 105.000 unit pikap dari India untuk mendukung Kopdes Merah Putih. Modelnya macam-macam. Ada Mahindra Scorpio, Tata Yodha Pick Up, sampai truk Ultra T.7. Jumlahnya hampir setara total penjualan pikap domestik Indonesia sepanjang 2025. Angka segitu bukan lagi proyek, itu sudah level gempa ekonomi.
Alasannya? Kapasitas produksi lokal sekitar 70 ribu unit per tahun. Kalau semua kebutuhan diambil dari dalam negeri, bisa mengganggu pasokan untuk sektor logistik lain. Secara industri, argumen itu terdengar rasional.
Baca Juga: Menimbang Untung Rugi Program 80.000 Kopdes Merah Putih Gagasan Prabowo
Tapi netizen tak berhenti di situ.
















