Opini  

Di Ujung Surah Hud: Ketika Istiqamah Menjadi Nafas Peradaban

Pesan Surah Hud ayat 73-123
Pesan Surah Hud ayat 73-123. (Dok. Ist)

Surah ini ditutup dengan deklarasi totalitas:

Fa‘budhu wa tawakkal ‘alaih
“Maka sembahlah Dia dan bertawakallah kepada-Nya.” (Hud: 123)

Inilah simpul akhirnya: *ibadah dan tawakal. Setelah semua analisis sosial, sejarah peradaban, dan evaluasi moral, solusi terakhir tetap spiritual. **Bekerja* dengan serius, *memperjuangkan* nilai dengan konsisten, namun *menyerahkan hasil* kepada Allah.

Di tengah dunia yang penuh *ketidakpastian*—krisis ekonomi, degradasi moral, turbulensi politik—Surah Hud ayat 73–123 menghadirkan tiga fondasi utama:

1. *Keteguhan spiritual*
2. *Integritas sosial*
3. *Keadilan struktural*

Tanpa tiga ini, modernitas hanya akan menjadi bangunan rapuh. Dengan tiga ini, bahkan komunitas kecil bisa menjadi mercusuar peradaban.

Seusai membaca ayat-ayat ini, ada rasa yang tidak biasa: campuran antara *harapan* dan *tanggung jawab*. Harapan karena rahmat Allah begitu luas. Tanggung jawab karena sejarah telah menunjukkan pola yang jelas.

Surah Hud tidak sedang mengancam. Ia sedang *mengajarkan*.

Bahwa rahmat datang bagi yang *taat*.
Bahwa kehancuran datang bagi yang *zalim*.
Bahwa keselamatan terletak pada *istiqamah*.

Dan mungkin, di situlah inti peradaban: bukan pada kecanggihan teknologi, bukan pada kekuatan ekonomi, melainkan pada kemampuan manusia untuk tetap *berdiri tegak* dalam nilai, meski dunia bergeser.

Karena pada akhirnya, sejarah bukan tentang siapa yang paling kuat.

Sejarah adalah tentang siapa yang paling *teguh*.

Baca Juga: Kisah Tragis Utsman bin Affan, 40 Hari Pengepungan, Satu Mushaf Berdarah

Oleh: Gusti Hardiansyah

(Guru Besar Universitas Tanjungpura, Ketua ICMI Orwil Kalbar)

*Disclaimer: Artikel ini merupakan pandangan pribadi penulis dan tidak mencerminkan posisi resmi atau kebijakan redaksi.