OPINI – Pagi masih muda. Cahaya belum sepenuhnya menembus jendela. Seusai Subuh, mushaf terbuka pada Surah Hud ayat 73–123. Ayat-ayat ini seperti rangkaian sejarah yang tidak sekadar bercerita, tetapi *mengguncang kesadaran. Di dalamnya ada dialog keluarga Nabi Ibrahim, tragedi kaum Luth, seruan ekonomi Nabi Syu’aib, hingga perintah tegas kepada Nabi Muhammad ﷺ untuk **istiqamah*.
Surah ini bukan hanya kisah masa lalu. Ia adalah *cermin peradaban*.
Baca Juga: Abu Lahab & Abu Jahal, Duo Oposisi Abadi yang Takut Kehilangan Kursi
Ayat 73 menghadirkan kelembutan yang menenangkan. Malaikat berkata kepada keluarga Nabi Ibrahim:
Raḥmatullāhi wa barakātuhu ‘alaikum ahlal-bayt
“Rahmat Allah dan keberkahan-Nya atas kalian, wahai ahlul bait.” (Hud: 73)
Di sini, kita belajar tentang *rahmat* yang melampaui logika. Sarah yang telah tua diberi kabar kelahiran. Ibrahim yang telah renta disapa dengan janji kehidupan. Pesannya jelas: jangan pernah membatasi *kuasa Allah* dengan kalkulasi manusia. Dalam dunia modern yang terobsesi pada data dan statistik, iman mengajarkan satu hal: ada ruang bagi *keajaiban ilahiah*.
Namun Surah Hud tidak berhenti pada kabar gembira. Ia bergerak menuju kisah kaum Luth—sebuah potret ketika *penyimpangan moral* menjadi kebanggaan publik. Ketika nilai kesucian runtuh, ketika relasi sosial kehilangan arah, ketika peringatan nabi ditertawakan.
Allah berfirman:
Falammā jā’a amrunā ja‘alnā ‘āliya-hā sāfilahā
“Ketika datang perintah Kami, Kami jadikan bagian atasnya ke bawah.” (Hud: 82)
Ini bukan sekadar gambaran azab fisik. Ini adalah metafora tentang *pembalikan tatanan sosial. Ketika yang salah dianggap benar, ketika norma dibalikkan, kehancuran tinggal menunggu momentum. Surah Hud mengingatkan bahwa **krisis moral kolektif* selalu memiliki konsekuensi historis.
Baca Juga: Kisah Agung Khadijah dan Rasulullah, Cinta yang Membiayai Wahyu
Berikutnya, Nabi Syu’aib tampil membawa pesan yang sangat kontekstual bagi dunia ekonomi hari ini:
Awful-kaila wal-mīzāna bil-qisṭi
“Sempurnakanlah takaran dan timbangan dengan adil.” (Hud: 85)
Inilah seruan tentang *integritas ekonomi. Syu’aib tidak berbicara tentang ritual semata, tetapi tentang **kejujuran transaksi, **transparansi perdagangan, dan **keadilan distribusi*. Dalam realitas kontemporer di mana manipulasi data, korupsi, dan spekulasi menjadi penyakit sistemik ayat ini terasa sangat relevan.
Surah Hud menegaskan bahwa *ketidakadilan ekonomi* bukan hanya kesalahan administratif; ia adalah *dosa sosial. Peradaban runtuh bukan hanya karena bencana alam, tetapi karena **kerusakan etika kolektif*.
Kisah Fir’aun dalam ayat 96–99 menambahkan dimensi lain: *kepemimpinan yang menyesatkan*. Allah menyebut:
Wa mā amru fir‘auna bir-rasyd
“Perintah Fir’aun itu bukanlah petunjuk yang benar.” (Hud: 97)
Tidak semua kekuasaan adalah kebenaran. Tidak semua otoritas membawa petunjuk. Surah Hud mengajarkan *literasi moral terhadap kepemimpinan. Bahwa umat tidak boleh menelan mentah-mentah arah kebijakan tanpa **kesadaran etis*. Kekuasaan tanpa nilai akan menjadi mesin destruksi.
Ayat 102 memberikan prinsip besar yang melintasi zaman:
Wa kadzālika akhdzu rabbika idzā akhadzal-qurā wa hiya zhālimah
“Demikianlah azab Tuhanmu apabila Dia mengazab negeri yang zalim.” (Hud: 102)
*Kezaliman struktural* adalah alarm kehancuran. Surah Hud menunjukkan pola yang konsisten: ketika masyarakat membiarkan *ketidakadilan, ketika **korupsi* dilegalkan, ketika nilai disingkirkan, maka sejarah bergerak menuju *koreksi ilahiah*.
Baca Juga: Muhasabah di Ujung Usia: Jika Ini Ramadan Terakhirku?
Lalu datang ayat yang membuat Rasulullah ﷺ bersabda bahwa Surah Hud membuat rambutnya beruban:
Fastaqim kamā umirta wa man tāba ma‘aka
“Maka tetaplah engkau di jalan yang benar sebagaimana diperintahkan.” (Hud: 112)
Di sinilah inti seluruh rangkaian ini: *istiqamah*.
Istiqamah bukan sekadar bertahan. Ia adalah *konsistensi nilai, **keteguhan prinsip, dan **disiplin moral* di tengah tekanan sosial. Dunia modern sering memuja perubahan cepat, tren instan, dan sensasi viral. Namun Surah Hud memuliakan sesuatu yang sunyi: *konsistensi*.
Istiqamah berarti:
– Teguh dalam *tauhid*
– Stabil dalam *etika*
– Konsisten dalam *ibadah*
– Jujur dalam *muamalah*
Ayat 120 mempertegas fungsi sejarah:
Mā nuthabbitu bihī fu’ādak
“Agar Kami teguhkan hatimu.” (Hud: 120)
Kisah para nabi bukan nostalgia. Ia adalah *penguat mental. Ia adalah **arsip ketahanan spiritual*. Setiap nabi menghadapi resistensi, ejekan, penolakan. Namun mereka bertahan dalam prinsip.
















