Faktakalbar.id, LIFESTYLE – Ibadah puasa selama sebulan penuh memberikan kesempatan langka bagi organ tubuh untuk beristirahat dari rutinitas mencerna makanan. Secara medis, menahan lapar dan haus dalam durasi belasan jam memicu berbagai perubahan biokimia yang sangat menguntungkan bagi kesehatan jangka panjang.
Tubuh manusia memiliki kemampuan luar biasa dalam memperbaiki diri sendiri saat berada dalam kondisi perut kosong. Banyak ahli kesehatan dunia kini mulai mempelajari bagaimana puasa dapat menjadi terapi alami untuk membersihkan racun dan memperbaiki kerusakan pada tingkat seluler.
Fenomena ini bukan sekadar memberikan rasa tenang secara spiritual, melainkan juga melakukan perbaikan total pada sistem mesin biologis manusia.
Baca Juga: Mandi Malam di Atas Jam 7 Picu Rematik: Fakta Medis atau Sekadar Mitos Belaka?
Aktivasi Mekanisme Autofagi Seluler
Salah satu penemuan ilmiah paling spektakuler terkait puasa adalah aktivasi proses autophagy atau autofagi. Istilah ini berasal dari bahasa Yunani yang berarti memakan diri sendiri, namun dalam konteks yang sangat positif.
Saat tubuh tidak menerima asupan energi dari luar, sel-sel tubuh mulai mengidentifikasi dan menghancurkan komponen internal yang sudah rusak atau tidak berfungsi. Proses pembersihan mandiri ini mencegah penumpukan protein beracun yang sering kali menjadi pemicu berbagai penyakit degeneratif.
Dengan menjalankan puasa, seseorang secara otomatis mengaktifkan sistem daur ulang internal yang mengubah sampah seluler menjadi energi baru yang lebih bersih dan efisien.
Percepatan Regenerasi Sistem Imun
Puasa dalam durasi tertentu juga mampu merangsang produksi sel induk atau stem cells baru untuk memperkuat sistem kekebalan tubuh. Saat cadangan energi lama habis, tubuh memberikan sinyal kepada sumsum tulang untuk memproduksi sel darah putih baru yang lebih kuat dan agresif dalam melawan infeksi.
Penelitian menunjukkan bahwa puasa selama tiga hari secara bertahap dapat memicu regenerasi seluruh sistem imun manusia. Bagi masyarakat yang berpuasa Ramadan, proses ini terjadi secara konsisten selama tiga puluh hari, sehingga daya tahan tubuh terhadap serangan virus dan bakteri meningkat secara signifikan.
Hal ini menjelaskan mengapa banyak orang merasa kondisi fisiknya justru lebih bugar setelah melewati minggu pertama bulan puasa.













