Simbol Supremasi Data Kelautan, TNI AL Resmikan KRI Canopus-936 di Jerman

Kapal Perang Republik Indonesia (KRI) Canopus-936 jenis Bantu Hidro-Oseanografi (BHO) bersandar di dermaga galangan kapal di Jerman. (Dok. HO/Faktakalbar.id)
Kapal Perang Republik Indonesia (KRI) Canopus-936 jenis Bantu Hidro-Oseanografi (BHO) bersandar di dermaga galangan kapal di Jerman. (Dok. HO/Faktakalbar.id)

Faktakalbar.id, LEMWERDER – Tentara Nasional Indonesia Angkatan Laut (TNI AL) kembali memperkuat armadanya dengan menghadirkan Alat Utama Sistem Senjata (Alutsista) strategis terbaru, KRI Canopus-936.

Baca Juga: Resmi Diserahkan Fincantieri, KRI Prabu Siliwangi-321 Jadi Kapal Tempur Tercanggih di Indo-Pasifik

Kehadiran kapal survei hidro-oseanografi canggih ini menegaskan komitmen Indonesia dalam menjaga kedaulatan maritim yang kini bertumpu pada akurasi data dan kepastian navigasi, Kamis (12/2/2026).

Prosesi peresmian yang meliputi Shipnaming, Delivery, serta Pengukuhan Komandan KRI Canopus-936 dipimpin langsung oleh Wakil Kepala Staf Angkatan Laut (Wakasal), Laksdya TNI Erwin S. Aldedharma.

Kegiatan berlangsung khidmat di galangan kapal Abeking & Rasmussen, Lemwerder, Jerman.

Dalam sambutannya, Wakasal menekankan bahwa kehadiran KRI Canopus-936 bukan sekadar penambahan jumlah armada, melainkan sebuah lompatan strategis.

Kapal ini menjadi simbol penguatan peran Indonesia sebagai negara maritim besar yang memprioritaskan keselamatan navigasi serta supremasi di laut melalui penguasaan data hidro-oseanografi yang presisi.

Baca Juga: Jalur Darat Lumpuh Total, TNI AL Kerahkan Kapal Perang KRI Banda Aceh Angkut 320 Ton Beras ke Nias

KRI Canopus-936 merupakan Kapal Bantu Hidro-Oseanografi (BHO) Ocean Going yang dirancang untuk beroperasi di laut lepas. Nama “Canopus” diambil dari nama bintang yang secara tradisional menjadi penunjuk arah bagi para pelaut.

Pemilihan nama ini menyiratkan harapan agar kapal yang diawaki oleh 93 prajurit Jalasena pilihan tersebut dapat menjadi panduan keselamatan dan kepastian navigasi di perairan nusantara maupun internasional.

Secara spesifikasi, kapal dengan panjang 105 meter ini kini tercatat sebagai kapal survei terbesar yang dimiliki TNI AL.

Kehadirannya diproyeksikan untuk menggantikan peran KRI Dewa Kembar (932), kapal legendaris eks Angkatan Laut Kerajaan Inggris (HMS Hydra) yang memiliki sejarah panjang, termasuk keterlibatannya dalam Perang Falklands sebagai kapal rumah sakit.

Pembangunan KRI Canopus-936 memakan waktu tiga tahun (36 bulan) dan merupakan hasil kolaborasi teknologi tinggi.

Proyek ini dikerjakan oleh galangan dalam negeri, Palindo Marine, yang bekerja sama dengan galangan Abeking & Rasmussen dari Jerman sebagai mitra teknologi.

Kerja sama strategis ini dijalankan dalam kerangka kebijakan Imbal Dagang, Kandungan Lokal, dan Offset (IDKLO).

Skema ini diklaim pemerintah efektif dalam mendorong transfer teknologi dan peningkatan kapasitas industri pertahanan nasional, sehingga kemandirian alutsista Indonesia dapat terus ditingkatkan di masa depan.

(FR)