3. Terbentuknya Scarcity Mindset
Anak yang tumbuh dengan kekurangan sering kali mengembangkan scarcity mindset atau pola pikir kelangkaan.
Mereka terbiasa merasa bahwa sumber daya selalu terbatas, sehingga sulit bagi mereka untuk berpikir strategis atau mengambil peluang di masa depan.
Bahkan setelah dewasa dan memiliki uang sendiri, individu ini sering kali tetap merasa tidak aman secara finansial, mudah panik, atau justru menjadi sangat impulsif karena takut kehilangan apa yang mereka miliki saat ini.
4. Krisis Harga Diri (Self-Esteem)
Lingkungan sosial sering kali tidak ramah terhadap mereka yang kekurangan.
Anak-anak yang tidak mampu memenuhi kebutuhan dasar atau tren teman sebaya sering kali merasa terisolasi dan rendah diri.
Perasaan “tidak cukup baik” atau “berbeda” ini bisa tertanam kuat di alam bawah sadar.
Jika tidak ditangani, krisis harga diri ini akan menghambat prestasi akademik dan profesional mereka di masa depan karena mereka merasa tidak layak untuk sukses.
Catatan Penting: Diskusi mengenai kesiapan ekonomi sebelum memiliki anak bukanlah bentuk diskriminasi, melainkan upaya untuk memutus rantai trauma antargenerasi.
Memberikan kehidupan yang layak secara mental dan fisik adalah hak setiap anak yang lahir ke dunia.
Baca Juga: Musrenbang Pontianak Selatan 2027 Fokus pada Ekonomi Berkelanjutan dan Lingkungan
















