Faktakalbar.id, LIFESTYLE – Dalam struktur keluarga yang mengalami kesulitan ekonomi kronis, sering kali terjadi fenomena di mana seorang anak harus mengambil keputusan ekstrem: memisahkan diri dari beban tanggung jawab keluarga untuk bisa menyelamatkan masa depannya sendiri.
Keputusan ini diambil bukan karena kurangnya rasa sayang, melainkan karena kesadaran bahwa jika terus terjebak dalam pola yang sama, seluruh generasi akan tetap berada di bawah garis kemiskinan.
Namun, secara psikologis, langkah ini meninggalkan jejak mental yang sangat nyata.
1. Beban Survival Guilt (Rasa Bersalah Bertahan Hidup)
Saat Anda memutuskan untuk fokus pada pengembangan diri dan membatasi bantuan finansial ke keluarga demi menabung atau sekolah, muncul rasa bersalah yang hebat.
Secara ilmiah, ini disebut survival guilt.
Anda merasa jahat saat makan enak atau membeli sepatu baru sementara orang tua atau saudara di rumah masih kesulitan.
Rasa bersalah ini jika tidak dikelola akan berubah menjadi kecemasan kronis yang menghambat produktivitas Anda sendiri.
2. Tekanan Parentification yang Terus Menghantui
Banyak anak dari keluarga miskin mengalami parentification, yaitu kondisi di mana anak dipaksa mengambil peran dewasa (pengambil keputusan atau pencari nafkah) sejak dini.
Ketika Anda mencoba melepaskan diri dari peran ini, Anda mungkin merasa kehilangan identitas atau merasa “gagal” sebagai anak.
Secara psikologis, ada beban moral yang seolah-olah mengatakan bahwa nasib orang tua sepenuhnya ada di pundak Anda, padahal secara ekonomi Anda sendiri belum stabil.
3. Kehilangan Safety Net (Jaring Pengaman) Emosional
Berbeda dengan mereka yang berasal dari keluarga mapan, Anda bergerak tanpa safety net.
Jika Anda gagal, tidak ada rumah yang bisa menampung Anda tanpa menambah beban.
















