Opini  

Jika Indonesia Dipimpin Kim Jong Un, Negara Kuat, Rakyat Diam

Apa jadinya jika Indonesia dipimpin Kim Jong Un? (Dok. Ist)
Apa jadinya jika Indonesia dipimpin Kim Jong Un? (Dok. Ist)

OPINI – Tulisan ini lahir karena sebuah request dari akun Ade Muslih. “Assalamu’alaikum Bang. Kalau boleh saya mau request, Abang menjelaskan plus minusnya kalau negara kita dipimpin oleh Kim Jong Un, atau sistem pemerintahannya. Makasih sblmny ya Bang.” Baik, saya coba ulas dengan gaya koptagul, wak!

Nama Kim Jong Un itu bukan hasil pemilu. Bukan produk baliho pinggir jalan. Apalagi hasil survei “elektabilitas naik 0,7 persen”. Ia lahir dari rahim kekuasaan.

Lahir 8 Januari 1983, anak Kim Jong Il, cucu Kim Il Sung, di Korea Utara, jabatan tertinggi negara diwariskan seperti rice cooker keluarga. Siapa anaknya, dialah yang pakai.

Negaranya bernama Republik Rakyat Demokratik Korea. Bunyinya demokratis, faktanya komunis. Namanya panjang dan terdengar ramah, isinya singkat dan tegas.

Baca Juga: Gagal Mitigasi Banjir, Kim Jong Un Eksekusi Mati 30 Pejabat Korea Utara

Satu pemimpin, satu suara, satu kebenaran. Ideologinya komunisme Juche, artinya berdikari total. Berdiri di atas kaki sendiri, menutup telinga, menutup mata, lalu bilang ke dunia, “Kalian iri.”

Kim Jong Un naik takhta 2011. Masih muda, tapi kekuasaannya matang seperti durian busuk. Sekali jatuh, baunya kemana-mana. Ia pegang partai, militer, dan negara sekaligus.

Oposisi? Museum. Pers bebas? Legenda urban. Kritik? Bisa jadi tiket wisata satu arah ke tempat yang tak ada sinyal. Modar.

Sekarang mari kita berandai-andai sambil ngopi, bagaimana kalau Indonesia dipimpin ala Kim Jong Un?

Wah, negara langsung kelihatan rapi. Tak ada demo, tak ada ribut, tak ada netizen bacot. Apa lagi ngatakan planga-plongo, omon-omon.

Media sosial sepi, bukan karena warga bijak, tapi karena HP dipakai cuma buat foto pemimpin. Keputusan cepat, kilat, tanpa diskusi. Lagu kebangsaan bisa jadi backsound TikTok resmi negara.

Kedengarannya mantap? Iya. Rasanya aman? Juga iya. Tapi aman seperti apa? Aman seperti ayam di kulkas, tenang, tapi dingin dan tak bernyawa.

Kritik berubah jadi bisik. Satire berubah jadi dosa. Komedian macam Panji harus ikut kursus filsafat dulu sebelum bercanda.

Seniman melukis sambil mikir, “Ini aman, tak?” Negara tenang, rakyat senyap, ide-ide dimasukkan mode pesawat.

Padahal Indonesia ini lahir bukan dari keheningan, tapi dari ribut berjamaah. Dari beda pendapat, debat kusir, dan omongan warung kopi yang kadang lebih jujur dari rapat resmi.

Demokrasi kita memang berisik. Kadang memalukan. Sering bikin emosi. Tapi di situlah rakyat masih boleh bilang, “Bang, ini ngaco.”

Lalu kita mulai bermimpi, “Coba ada negara ideal…”

Maka muncullah negara utopia. Negara kuat, rakyat makmur, aman, tentram, damai, tak ada korupsi, bebas ngoceh, bebas kritik, bebas satire. Indah sekali.