Opini  

Israel Boleh Segalanya, Palestina Tak Boleh Apa-apa

Opini tajam mengenai sikap Israel yang melarang Otoritas Palestina mengurus Gaza, dominasi Netanyahu atas AS, serta dukungan Indonesia dan Prabowo untuk kemerdekaan Palestina. (Dok. Ist)
Opini tajam mengenai sikap Israel yang melarang Otoritas Palestina mengurus Gaza, dominasi Netanyahu atas AS, serta dukungan Indonesia dan Prabowo untuk kemerdekaan Palestina. (Dok. Ist)

OPINI – Ngomongkan Israel memang tak ada habisnya. Semakin dibenci dunia, negeri zionis malah tertawa. Amerika Serikat sebesar itu malah di bawah ketiaknya. Simak sikap songong Israel atas Gaza, Palestina sambil seruput Koptagul, wak!

Gaza punya wilayah. Punya rakyat. Punya sejarah. Punya daftar panjang korban. Tapi, dilarang mengatur dirinya sendiri. Ini bukan parodi. Ini pernyataan resmi.

Benjamin Netanyahu, Perdana Menteri Israel yang status hukumnya lebih pas ditempel di papan buronan bandara internasional, dengan santai menyampaikan ke utusan Amerika Serikat, Otoritas Palestina tidak boleh ikut mengurus Gaza.

Baca Juga: Udah Dibentuk BoP pun Israel Tetap Ngebom Gaza

Hamas dilarang. PA dilarang. Palestina dilarang. Gaza boleh ada, asal seperti properti panggung, kelihatan, tapi tak boleh bicara.

Logika ini hanya masuk akal kalau dunia dikendalikan remote control dan remotnya bermerek “Made in Tel Aviv”. Amerika Serikat, negara yang hobi mengajari demokrasi ke seluruh planet, kini tampil seperti murid magang geopolitik.

Steve Witkoff datang ke Yerusalem, wilayah Palestina yang diduduki, jangan pura-pura lupa, mendengarkan Netanyahu memberi instruksi, lalu pulang dengan wajah diplomat yang baru sadar bahwa Gedung Putih bukan pusat komando.

Trump boleh presiden, tapi Israel bertindak sebagai sutradara. Amerika cukup jadi figuran yang angguk, senyum, dan siapkan kapal perang terbesar dan terbaik untuk latar dramatis.

Yang bikin ubun-ubun mendidih, ada komite bernama NCAG, katanya teknokratis, katanya transisi, katanya direstui Trump. Tugasnya mengelola Gaza sampai otoritas Palestina direformasi.

Tapi begitu ada simbol Palestina nongol secuil saja, Netanyahu langsung alergi. Simbol. Logo. Bukan roket. Bukan tank. Tapi Israel bereaksi seolah itu wabah mematikan. Pesannya telanjang. Palestina boleh menderita, tapi jangan pernah terlihat berdaulat.

Di saat bersamaan, Israel mendesak Amerika menyerang Iran, seperti debt collector geopolitik yang datang sambil membawa palu godam. Trump ragu, pejabat AS bilang presiden sebenarnya tak ingin perang. Tapi, jenderal Israel sudah presentasi peta serangan ke Washington.