4. Kemampuan Bahasa Asing yang Masih Rendah
Di era globalisasi, kemampuan Bahasa Inggris (dan bahasa asing lainnya) bukan lagi nilai tambah, melainkan kebutuhan dasar.
Banyak perusahaan multinasional atau startup yang mensyaratkan kemampuan ini.
Sayangnya, banyak sarjana di Indonesia yang masih pasif berbahasa Inggris.
Hal ini menutup peluang mereka untuk melamar di perusahaan-perusahaan bonafide atau bersaing dengan tenaga kerja asing yang mulai masuk ke pasar Indonesia.
5. Ekspektasi Gaji yang Tidak Realistis
Fakta terakhir sering menjadi keluhan para perekrut.
Banyak fresh graduate yang mematok standar gaji terlalu tinggi di pekerjaan pertamanya, tanpa diimbangi dengan skill yang mumpuni.
Terpapar gaya hidup di media sosial seringkali membuat standar hidup melambung.
Ketika ditawari gaji UMR atau entry level, banyak yang memilih menolak dan menganggur demi menunggu tawaran yang “sempurna”.
Padahal, di awal karier, pengalaman dan jam terbang jauh lebih berharga daripada nominal gaji instan.
Baca Juga: MBG Lebih Mendesak, Lapangan Kerja Nanti Dulu Ya!
(Mira)
















