Fakta Klinis di Balik Fenomena “Remaja Jompo”: Tinjauan Fisiologis Kesehatan Gen Z

"Fenomena "Remaja Jompo" mengindikasikan krisis kesehatan muskuloskeletal dini. Artikel ini membedah dampak gaya hidup sedenter dan screen time terhadap anatomi tubuh Gen Z secara medis."
Fenomena "Remaja Jompo" mengindikasikan krisis kesehatan muskuloskeletal dini. Artikel ini membedah dampak gaya hidup sedenter dan screen time terhadap anatomi tubuh Gen Z secara medis. (Dok. Ist)

Faktakalbar.id, LIFESTYLE – Istilah “Remaja Jompo” sering menjadi lelucon di media sosial, menggambarkan anak muda usia 20-an yang akrab dengan nyeri punggung dan kelelahan kronis.

Namun, dalam perspektif medis, ini bukanlah sekadar tren internet, melainkan indikator penurunan kualitas kesehatan fisik yang nyata.

Secara ilmiah, tubuh manusia tidak berevolusi secepat perubahan gaya hidup modern.

Struktur anatomi Gen Z kini menghadapi tekanan fisiologis yang berbeda dibandingkan generasi sebelumnya.

Baca Juga: Fenomena Kebotakan Dini: Mengapa Rambut Gen Z Lebih Rapuh Dibanding Millenial?

Berikut adalah analisis medis mengenai apa yang sebenarnya terjadi pada tubuh generasi muda saat ini.

1. Sindrom Text Neck: Beban Biomekanik pada Servikal

Salah satu keluhan utama adalah nyeri leher dan pusing.

Dalam istilah medis, ini dikenal sebagai Text Neck Syndrome.

Secara biomekanik, kepala manusia memiliki berat rata-rata 4-5 kg dalam posisi netral.

Studi menunjukkan bahwa setiap derajat kemiringan kepala ke depan meningkatkan beban pada tulang leher (cervical spine).

Saat menunduk 60 derajat posisi tipikal saat menggunakan ponsel leher menanggung beban gravitasi setara 27 kg.

Beban statis yang berlebihan ini menyebabkan ketegangan kronis pada otot trapezius dan levator scapulae, memicu nyeri kepala tipe tegang (tension headache) dan potensi cedera cakram tulang belakang dini.

2. Gluteal Amnesia: Disfungsi Otot Akibat Gaya Hidup Sedenter

Nyeri punggung bawah (low back pain) yang mewabah di kalangan muda berkaitan erat dengan durasi duduk yang ekstrem.

Dalam sains kedokteran olahraga, kondisi ini disebut Gluteal Amnesia atau Dead Butt Syndrome.

Akibat inaktivitas yang berkepanjangan, otot gluteus maximus (bokong) kehilangan kemampuan neurologis untuk berkontraksi dengan benar.

Dampaknya adalah kompensasi otot.

Otot punggung bawah (erector spinae) dipaksa bekerja berlebihan untuk menstabilkan panggul dan tubuh, menggantikan peran otot bokong yang melemah.