Faktakalbar.id, NASIONAL – Kementerian Lingkungan Hidup/Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (KLH/BPLH) memperkuat langkah penanganan krisis iklim global. Menteri LH/Kepala BPLH, Hanif Faisol Nurofiq, menggandeng Inggris melalui pertemuan bilateral dengan Perwakilan Khusus Inggris untuk Iklim, Rachel Kyte, di London, Jumat (23/1/2026).
Kedua negara sepakat mempererat kerja sama menyusul hasil konferensi COP30 di Belém, Brasil. Pertemuan ini bertujuan memastikan komitmen internasional berubah menjadi aksi teknis yang nyata bagi masyarakat.
Menteri Hanif menilai hasil COP30 belum memberikan kemajuan kolektif yang cukup untuk mengatasi krisis iklim. Ia menuntut negara-negara maju memobilisasi pembiayaan yang lebih konkret, terutama untuk adaptasi dan penanganan kerugian akibat bencana.
“Dari perspektif kami, hasil COP30 di Belém belum memberikan tingkat kemajuan kolektif yang dituntut oleh krisis iklim. Secara khusus, kami berharap ada kemajuan lebih konkret dalam mobilisasi pembiayaan iklim,” tegas Hanif.
Belajar dari Bencana Sumatra
Menteri Hanif menjadikan bencana hidrometeorologi yang baru saja melanda Sumatra sebagai alarm keras bagi dunia. Ia memaparkan data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) yang mencatat kerugian lebih dari USD 3,1 miliar akibat banjir dan longsor di Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat.
Hanif menyebut bencana tersebut menelan korban jiwa lebih dari 1.000 orang. Fakta tragis ini mendorong Indonesia untuk segera memperkuat sistem peringatan dini dan analisis risiko iklim.
















