“Turki adalah anggota NATO, dan sebenarnya, dalam konteks NATO-lah istilah keunggulan militer kualitatif pertama kali digunakan oleh AS sehubungan dengan posisi NATO terhadap Rusia. Tujuan NATO adalah untuk memberikan AS dan sekutunya keunggulan militer kualitatif atas Rusia,” ujar Josh Paul dalam wawancaranya bersama Anadolu, Minggu (18/1/2026).
Paul menganggap bahwa membiarkan lobi Israel mendikte kebijakan pertahanan anggota NATO merupakan sebuah kesalahan strategis.
“Gagasan bahwa keunggulan militer kualitatif Israel akan mengalahkan keunggulan militer Amerika, dan keunggulan militer kualitatif NATO, benar-benar tidak masuk akal, dan menurut saya seharusnya sangat mengkhawatirkan semua anggota NATO,” tambahnya.
Konteks Geopolitik Terbaru
Secara historis, selain Turki, tiga negara Arab yang kerap masuk dalam pembahasan pembelian F-35 adalah Uni Emirat Arab (UEA), Arab Saudi, dan Qatar.
Kekhawatiran AS akan protes Israel seringkali menghambat penjualan jet tempur generasi kelima ini ke negara-negara Teluk karena Israel takut kehilangan dominasi udara di kawasan tersebut.
Paul menjelaskan bahwa AS seharusnya menerapkan QME hanya untuk negara-negara di bawah Biro Timur Dekat (NEA) Departemen Luar Negeri AS, yang mencakup negara-negara Arab dan Iran.
Ia menegaskan aturan ini tidak pernah dirancang untuk membatasi kekuatan militer anggota NATO seperti Turki.
Baca Juga: Eksperimen di Atas Genosida: Mengungkap Sisi Bisnis di Balik Penjajahan Israel di Palestina
Josh Paul sendiri sebelumnya telah mengundurkan diri dari jabatannya pada Oktober 2023. Ia mengambil keputusan tersebut sebagai bentuk protes terhadap pemerintahan Joe Biden yang mempercepat pengiriman senjata ke Israel saat konflik di Gaza meletus.
Hingga berita ini terbit, pihak Gedung Putih belum memberikan pernyataan resmi terkait kelanjutan proposal penjualan F-35 ke Turki maupun negara-negara Arab yang terdampak lobi tersebut.
(*Sari)
















