Kekhawatiran utama bukanlah soal kemudahan bagi turis, melainkan “kejutan inflasi” yang kerap menyertai pergantian mata uang.
Masyarakat Bulgaria kini menghadapi ketakutan nyata akan pembulatan harga ke atas (rounding up) oleh pedagang yang memanfaatkan momen transisi.
Dengan konversi sekitar 10.000 Leva menjadi 5.100 Euro, daya beli warga yang sudah rendah kini semakin terancam tergerus jika tidak ada pengawasan harga yang ketat dari otoritas otoritas yang saat ini justru sedang vakum kepemimpinan.
Hilangnya Kedaulatan Moneter
Masuknya Bulgaria ke Zona Euro berarti negara ini kehilangan kemampuan independennya untuk mengatur kebijakan moneter guna merespons krisis domestik.
Kendali suku bunga kini berada di Frankfurt (markas ECB), bukan lagi di Sofia.
Bagi negara dengan ekonomi maju, hal ini adalah stabilitas.
Namun, bagi Bulgaria yang rentan guncangan ekonomi dan politik, hilangnya kedaulatan moneter tanpa diimbangi fondasi fiskal yang kuat bisa menjadi bumerang.
Opini publik pun terbelah tajam.
Sebagian kecil pengusaha seperti Antonia Tsvetkova melihat sisi praktis penghapusan selisih kurs.
Namun, mayoritas rakyat yang turun ke jalan bulan lalu menyuarakan skeptisisme: bagaimana mata uang baru bisa menyejahterakan rakyat jika pemerintahnya sendiri gagal menjamin keadilan pajak dan kestabilan harga?
Langkah Bulgaria di tahun 2026 ini bukan sekadar pergantian uang kertas, melainkan sebuah pertaruhan besar.
Apakah Euro akan menjadi jangkar stabilitas yang menyelamatkan, atau justru menjadi beban tambahan bagi rakyat yang sudah terhimpit krisis biaya hidup?
Baca Juga: Donald Trump Klaim Jadi Presiden Sementara Venezuela
(Mira)
















