Kemenhut Gandeng Pertamina, Fokus Rehabilitasi Hutan dan Cegah Bencana

Ilustrasi - Kemenhut menggandeng Yayasan Pertamina untuk rehabilitasi hutan dan cegah bencana. Wamenhut Rohmat Marzuki tekan pentingnya langkah preventif. (Dok. Ist)
Ilustrasi - Kemenhut menggandeng Yayasan Pertamina untuk rehabilitasi hutan dan cegah bencana. Wamenhut Rohmat Marzuki tekan pentingnya langkah preventif. (Dok. Ist)

Faktakalbar.id, NASIONAL – Kementerian Kehutanan (Kemenhut) resmi menggandeng Yayasan Pertamina untuk mempercepat rehabilitasi lahan dan mencegah bencana ekologis.

Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BP2SDM) Kemenhut mengikat komitmen tersebut melalui penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) di Jakarta, Rabu (14/1/2026).

Wakil Menteri Kehutanan, Rohmat Marzuki, menyaksikan langsung peresmian kolaborasi strategis ini.

Baca Juga: Kemenhut Serahkan Kayu Gelondongan untuk Bangun Hunian Sementara di Sumatera

Ia menjelaskan bahwa kedua pihak sepakat untuk mengoptimalkan Kawasan Hutan dengan Tujuan Khusus (KHDTK) melalui pendidikan, pelestarian lingkungan, dan pengabdian masyarakat.

Rohmat menegaskan bahwa pemerintah memandang kerja sama ini sebagai langkah vital untuk mengubah cara pandang pengelolaan hutan di Indonesia.

“Kebijakan kehutanan nasional saat ini menuntut perubahan paradigma: dari pengelolaan hutan yang reaktif menjadi pengelolaan hutan yang preventif, adaptif, dan resilien terhadap risiko bencana,” ujar Rohmat Marzuki.

Pemerintah menargetkan KHDTK tumbuh menjadi pusat keunggulan (Center of Excellence).

Rohmat berharap kawasan ini mampu mencetak Sumber Daya Manusia (SDM) yang kompeten sekaligus menjadi model bagi pengembangan teknologi kehutanan.

Melalui sinergi ini, BP2SDM telah menyiapkan beberapa lokasi hutan khusus untuk pengembangan bersama.

Tim gabungan akan bergerak aktif merehabilitasi lahan kritis, memperkuat kapasitas ekonomi masyarakat sekitar hutan, serta mengintegrasikan ketahanan pangan dan energi.

Baca Juga: Kemenhut dan Satgas PKH Tutup 55 Lubang Tambang Emas Ilegal di Gunung Halimun Salak

Kemenhut memprioritaskan langkah ini sebagai upaya konkret mengendalikan dampak perubahan iklim. Pemerintah menyadari pentingnya mengembalikan fungsi hutan sebagai penyangga air, mengingat mayoritas bencana di tanah air berupa banjir dan longsor.

Pemerintah berharap kolaborasi ini menciptakan inovasi jangka panjang yang berkelanjutan dan dapat diterapkan di seluruh wilayah Indonesia.

(*Sari)