“Sistem ini tidak menalar menuju sebuah jawaban. Ia memproduksi respons yang paling sesuai dengan pola bahasa secara statistik,” tegas Nosta.
Kondisi ini membuat AI lebih mengutamakan kelancaran bahasa daripada kebenaran atau kedalaman pemahaman. Pengguna kerap tertipu karena jawaban AI terdengar sangat meyakinkan dan otoritatif.
Membalik Proses Berpikir Manusia
Bahaya utama yang Nosta soroti adalah perubahan urutan proses berpikir. Secara alami, manusia memulai proses kognitif dari kebingungan, melakukan eksplorasi, menyusun struktur, hingga akhirnya sampai pada keyakinan. AI membalik total proses tersebut.
Saat menggunakan AI, pengguna langsung menerima struktur jawaban yang rapi di awal. Hal ini membuat pengguna langsung merasa yakin tanpa melalui proses bertanya atau menelaah kebenaran informasi tersebut.
“Mendapatkan jawaban di awal adalah kebalikan dari proses kognitif manusia. Itu bersifat antitesis terhadap pemikiran kita,” tambah Nosta.
Bahaya Erosi Kognitif
Senada dengan Nosta, laporan dari Work AI Institute dan peneliti Oxford University Press juga menyoroti risiko ini. Mereka menemukan bahwa AI memang mempercepat pekerjaan, tetapi perlahan mengikis kedalaman berpikir.
Manusia mulai melewatkan fase berhenti dan bertanya karena terbiasa dengan jawaban instan.
CEO International Data Center Authority, Mehdi Paryavi, menyebut hal ini sebagai erosi kognitif diam-diam.
Ia menilai kepercayaan diri seseorang terhadap kemampuan otaknya sendiri akan menurun jika terus menganggap AI berpikir lebih pintar darinya.
Baca Juga: Pertajam AI, Angkatan Laut AS Gelar Eksperimen Pencitraan Hiperspektral
Para ahli menyarankan pengguna untuk menjadikan AI sebagai mitra diskusi, bukan pengganti otak.
Manusia harus tetap memegang kendali penuh atas proses nalar dan verifikasi data untuk mencegah penurunan kemampuan berpikir kritis.
(*Sari)
















