Suara Perempuan Dianggap Ancaman? Vonis Laras dan Wajah Patriarki Hukum di Indonesia

"Vonis Laras Faizati dan penangkapan ibu menyusui Figha Lesmana menelanjangi wajah hukum yang misoginis. Aktivis Kalis Mardiasih soroti ketakutan negara pada solidaritas emosional perempuan."
Vonis Laras Faizati dan penangkapan ibu menyusui Figha Lesmana menelanjangi wajah hukum yang misoginis. Aktivis Kalis Mardiasih soroti ketakutan negara pada solidaritas emosional perempuan. (Dok. Ist)

“Dia (Figha) tidak dikasih kesempatan untuk bawa pumping (alat pompa ASI). Dia dipisahkan langsung dari anaknya. Berhari-hari Figha demam di kantor polisi gara-gara payudaranya bengkak dan mengeras,” ungkap Kalis menggambarkan brutalitas penanganan kasus tersebut.

Beban Ganda di Sistem Patriarki

Kasus Laras dan Figha menunjukkan beban ganda yang dipikul perempuan yang berani kritis.

Di satu sisi, mereka dijerat pasal-pasal karet UU ITE dan KUHP. Di sisi lain, mereka dihantam stigma budaya patriarki yang menuntut perempuan untuk menjadi sosok yang “lembut” dan “penurut”.

Laras sendiri dalam pleidoinya mengungkapkan bagaimana sesama tahanan perempuan yang didominasi ibu-ibu justru menasihatinya agar tidak usah mengkritik negara daripada dipenjara.

Hal ini, menurut Kalis, membuktikan betapa efektifnya teror hukum dalam mematikan nalar kritis perempuan hingga ke akar rumput.

Baca Juga: Jebakan Maskulinitas: 5 Dampak Patriarki yang Diam-diam Menghancurkan Laki-laki

(Mira)