Investor China Jual Saham BUMI, Kenapa Lokal Malah Borong?

Ilustrasi - Investor China (Chengdong) terus menjual saham BUMI hingga harga turun. Anehnya, investor lokal justru memborongnya. Simak alasan dan risikonya. (Dok. Ist)
Ilustrasi - Investor China (Chengdong) terus menjual saham BUMI hingga harga turun. Anehnya, investor lokal justru memborongnya. Simak alasan dan risikonya. (Dok. Ist)

Faktakalbar.id, LIFESTYLE – Pergerakan saham PT Bumi Resources Tbk (BUMI) tengah menjadi sorotan tajam di pasar modal pekan ini. Fenomena unik terjadi ketika investor raksasa asal China sibuk melepas kepemilikannya, namun investor lokal justru ramai-ramai memborong saham perusahaan batu bara tersebut.

Data perdagangan Bursa Efek Indonesia (BEI) memperlihatkan adanya tekanan jual yang besar yang membuat harga saham BUMI terkoreksi atau turun.

Meski demikian, volume transaksi tetap tinggi karena antusiasme pembeli dari dalam negeri.

Baca Juga: Bawa Dana Rp 2 Triliun, Investor Asing Buru Saham Indonesia

Raksasa China Buang Kiri

Penyebab utama jatuhnya harga saham BUMI adalah aksi divestasi atau penjualan saham oleh Chengdong Investment Corp.

Perusahaan investasi yang merupakan unit usaha dari China Investment Corporation (CIC) ini tercatat terus mengurangi porsi sahamnya di BUMI secara agresif.

Akibat aksi jual berturut-turut ini, kepemilikan saham Chengdong dilaporkan telah menyusut hingga di bawah 5 persen.

Langkah buang barang oleh pemegang saham pengendali asing ini sontak memicu kepanikan jangka pendek dan menekan harga saham ke level yang lebih rendah.

Alasan Lokal Masuk

Lantas, mengapa investor lokal justru berani membeli saat asing menjual? Alasannya sederhana, spekulasi harga murah dan potensi keuntungan masa depan.

Banyak investor ritel dalam negeri menilai penurunan harga akibat aksi jual Chengdong sebagai momentum diskon.

Mereka memanfaatkan kesempatan ini untuk mengumpulkan saham BUMI di harga bawah (buy on dip).

Faktor Indeks MSCI

Selain faktor harga murah, optimisme investor lokal juga didorong oleh spekulasi mengenai indeks global, Morgan Stanley Capital International (MSCI).

Pelaku pasar menaruh harapan besar bahwa saham BUMI akan masuk atau mendapatkan penambahan bobot dalam daftar indeks bergengsi tersebut pada pengumuman akhir Januari atau awal Februari nanti.

Jika spekulasi ini terbukti benar, biasanya akan ada gelombang aliran dana asing baru yang masuk ke saham BUMI.

Hal inilah yang diharapkan investor lokal dapat mengerek harga naik kembali (rebound) secara signifikan.

Risiko Volatilitas Tinggi

Meskipun terlihat menggiurkan, pengamat pasar modal tetap memperingatkan adanya risiko tinggi.

Baca Juga: Konflik AS-Venezuela Memanas, Cek 3 Rekomendasi Saham Energi Pilihan

Pertarungan antara tekanan jual asing yang masif dan daya beli lokal membuat pergerakan harga saham BUMI menjadi sangat liar (volatil).

Investor, khususnya pemula, disarankan untuk ekstra hati-hati. Membeli saham hanya berdasarkan spekulasi tanpa melihat fundamental perusahaan bisa berisiko kerugian jika prediksi pasar ternyata meleset.

(*Sari)