Menyentuh angka 2,92% mengindikasikan bahwa pemerintah hampir kehabisan ruang manuver anggaran.
Ketimpangan Pendapatan dan Belanja
Membengkaknya defisit ini dipicu oleh realisasi pendapatan negara yang tidak mencapai target. Sepanjang 2025, pendapatan negara hanya terkumpul Rp 2.756,3 triliun atau 91,7% dari target APBN.
Di sisi lain, belanja negara justru melaju kencang mencapai Rp 3.451,4 triliun atau 95,3% dari pagu anggaran. Ketimpangan (gap) antara pendapatan yang seret dan belanja yang agresif inilah yang memaksa pelebaran defisit hingga nyaris menyentuh plafon.
Klaim Optimisme di Tengah Risiko
Kendati data menunjukkan “lampu kuning” fiskal, Airlangga bersikeras bahwa pemerintah telah memitigasi risiko ekonomi, baik dari fluktuasi nilai tukar maupun pasar modal.
Ia menekankan bahwa prioritas pemerintah saat ini adalah mengejar pertumbuhan ekonomi untuk penciptaan lapangan kerja, meskipun harus membahayakan postur anggaran.
“Defisitnya masih aman, masih di bawah 3%. Yang paling penting kita mengejar pertumbuhan karena pertumbuhan kaitannya langsung terhadap employment,” klaimnya.
Sikap pemerintah yang menormalisasi defisit di angka kritis ini menjadi sorotan, mengingat ketidakpastian ekonomi global yang masih membayangi di tahun 2026.
(Mira)
















