Faktakalbar.id, LIFESTYLE — Bagi penderita gangguan lambung (maag atau GERD), momen makan seharusnya menjadi waktu untuk mengisi energi.
Namun, seringkali yang terjadi justru sebaliknya. Saat suapan nasi masuk, perut mendadak menolak, mual hebat datang, keringat dingin mengucur, dan pandangan menjadi gelap seolah akan pingsan.
Kondisi ini tentu menakutkan dan sering disalahartikan sebagai gejala serangan jantung atau penyakit berat lainnya.
Padahal, ada penjelasan medis logis mengenai hubungan antara lambung yang meradang dengan sistem saraf otak yang menyebabkan sensasi pingsan tersebut.
Baca Juga: Bukan Cuma Telat Makan, Ini Bedanya Sakit Maag Akibat Pola Makan vs Stres Pikiran
Mengapa hal ini bisa terjadi? Berikut adalah alasan ilmiahnya.
1. Iritasi Mukosa yang Memicu “Sinyal Bahaya”
Saat maag kambuh, dinding lambung (mukosa) sedang dalam kondisi meradang atau luka.
Makanan yang masuk, terutama jika teksturnya kasar atau porsinya terlalu banyak, akan bergesekan dengan dinding yang luka tersebut.
Gesekan ini mengirimkan sinyal nyeri yang ekstrem ke otak.
Sebagai respons pertahanan diri, otak memerintahkan lambung untuk berhenti mencerna atau bahkan memuntahkan isinya. Inilah yang memicu rasa mual hebat sesaat setelah makanan masuk.
2. Aktivasi Saraf Vagus (Refleks Vasovagal)
Inilah “biang kerok” utama kenapa Anda merasa ingin pingsan.
Tubuh manusia memiliki saraf panjang bernama Saraf Vagus yang menghubungkan otak dengan saluran pencernaan (gut-brain axis).
Saat lambung meregang secara tiba-tiba karena makanan atau gas, saraf vagus ini bisa terstimulasi secara berlebihan (over-stimulated).
Akibatnya, tubuh mengalami Refleks Vasovagal.
- Efeknya: Saraf vagus memerintahkan jantung untuk memperlambat detak dan pembuluh darah melebar.
- Hasilnya: Tekanan darah turun drastis secara mendadak. Aliran darah ke otak berkurang sesaat, menyebabkan pusing, kliyengan, pandangan kabur, hingga pingsan.
3. Hipotensi Postprandial (Darah Berkumpul di Perut)
Secara alami, setelah makan, tubuh akan mengalirkan lebih banyak darah ke sistem pencernaan untuk membantu proses cerna.
Pada orang normal, sistem saraf akan menyeimbangkan aliran darah ini agar otak tetap mendapat asupan cukup.
Namun, pada penderita maag yang sedang stres menahan nyeri, mekanisme ini kadang terganggu. Darah menumpuk di area perut, sementara suplai darah ke otak menipis.
Kondisi ini disebut Hipotensi Postprandial, yang membuat tubuh terasa lemas seperti melayang.
4. Tekanan Gas pada Diafragma
Maag seringkali disertai produksi gas berlebih. Gas ini akan menekan diafragma (sekat antara rongga perut dan dada) ke arah atas.
Tekanan ini membuat paru-paru tidak bisa mengembang maksimal, sehingga napas menjadi pendek dan sesak.
Kurangnya oksigen yang masuk, ditambah dengan kepanikan karena sesak napas, semakin memperparah sensasi ingin pingsan tersebut.










