Faktakalbar.id, BOLA – Dunia sepakbola Indonesia kembali berduka akibat aksi kekerasan di atas lapangan. Menanggapi insiden brutal yang terjadi di level Liga 4, PSSI secara resmi menjatuhkan hukuman larangan beraktivitas di dunia sepakbola seumur hidup kepada dua pemain yang terlibat dalam aksi tendangan “kungfu”.
Baca Juga: Respons PSSI Soal John Herdman Jadi Pelatih Timnas Indonesia: Proses Finalisasi Hampir Selesai
Langkah tegas ini diambil untuk memberikan efek jera sekaligus menjaga keselamatan para pemain serta marwah kompetisi sepakbola nasional yang baru saja memasuki format kasta terendah (Liga 4).
Insiden Pertama: Tendangan Dada di Jawa Timur
Aksi brutal pertama terjadi dalam laga Liga 4 Jawa Timur di Gelora Bangkalan, Madura, pada Senin (5/1/2026).
Pemain Putra Jaya, Muhammad Hilmi Gimnastiar, terekam menendang dada pemain Perseta, Firman Nugraha secara sengaja.
Dampak dari aksi tersebut sangat cepat:
-
Pemecatan Klub: Putra Jaya langsung memutus kontrak Hilmi di hari yang sama karena dinilai mencoreng nama baik klub.
-
Sanksi Komdis: Ketua Komdis PSSI pusat, Umar Husin, merekomendasikan hukuman maksimal yang kemudian direalisasikan oleh Komdis PSSI Jatim. Hilmi resmi di-banned seumur hidup dari sepakbola nasional.
Insiden Kedua: Tendangan Kepala di Yogyakarta
Hanya berselang sehari, insiden serupa namun lebih mengerikan terjadi di Liga 4 Yogyakarta (Piala Gubernur).
Pada Selasa (6/1/2026), pemain KAFI Jogja, Dwi Pilihanto, melakukan tendangan ke arah kepala pemain UAD FC, Amirul Mutaqqin, di Lapangan Sitimulyo, Bantul.
Baca Juga: FIFA Larang Iklan Kecilkan Layar Pertandingan di Piala Dunia 2026
Karena insiden ini terjadi saat topik kekerasan sedang hangat diperbincangkan, Komdis PSSI Yogyakarta tidak butuh waktu lama untuk bertindak. Dwi Pilihanto dijatuhi hukuman serupa, yakni larangan beraktivitas di dunia sepakbola seumur hidup.
Apa Itu Liga 4?
Kedua insiden ini terjadi di ajang Liga 4 fase Provinsi. Saat ini, klub-klub yang telah lolos dari fase regional (Piala Bupati/Walikota) tengah berjuang memperebutkan tiket menuju fase nasional.
Hukuman seumur hidup ini diharapkan menjadi pengingat keras bagi seluruh pelaku sepakbola di Indonesia bahwa keselamatan nyawa pemain dan sportivitas adalah prioritas utama yang tidak bisa ditawar, terlepas dari tingginya tensi pertandingan di lapangan.
(*Drw)
















