“Banyak pertumbuhan awan lokal yang terjadi di sekitar wilayah prioritas yang dapat berpotensi hujan. Namun wilayah tersebut tidak seluruhnya dapat terdeteksi radar,” ungkap operator OMC dalam laporannya.
Sementara itu, intensitas operasi tertinggi berlangsung di Sumatra Barat dengan total 11 sorti. Meskipun operasi telah dilakukan, hujan ringan masih terpantau di Solok, Kota Padang, dan kawasan hulu.
Namun, wilayah Agam, Padang Pariaman, Padang Panjang, dan Pasaman Barat terpantau tidak turun hujan.
Tantangan Topografi dan Armada
Pelaksanaan OMC di Sumatra menghadapi tantangan tersendiri, terutama faktor topografi yang relatif tinggi di sebagian wilayah target.
Oleh karena itu, teknik penyemaian memerlukan penyesuaian khusus dengan memperhatikan ketinggian dan area operasi penerbangan demi keselamatan dan efektivitas.
Baca Juga: BNPB Jadikan Hasil Evaluasi Hunian di Tiga Kabupaten sebagai Basis Dokumen R3P Sumbar
Hingga saat ini, Pos Pendamping Nasional menyiagakan total 9 armada untuk mendukung operasi ini. Rinciannya adalah 4 unit beroperasi di Aceh, 3 unit di Sumbar, dan 2 unit di Sumut.
Selama satu minggu terakhir, operasi modifikasi cuaca ini beroperasi penuh selama 24 jam. Hal ini merupakan wujud komitmen pemerintah pusat untuk memastikan penanganan darurat bencana di Sumatra dapat tuntas sesegera mungkin.
(*Red)
















