Ogah Cek Daftar Perusahaan yang Izinnya Dicabut, Prabowo: Saya Nggak Mau, Takut Ada Teman Saya

Presiden Prabowo Subianto saat memberikan sambutan dalam acara Panen Raya dan Pengumuman Swasembada Pangan di Karawang, Rabu (7/1).
Presiden Prabowo Subianto saat memberikan sambutan dalam acara Panen Raya dan Pengumuman Swasembada Pangan di Karawang, Rabu (7/1). (Dok. Youtube Sekretariat Presiden)

Faktakalbar.id, KARAWANG – Presiden Prabowo Subianto mengungkapkan tantangan berat yang dihadapinya dalam memimpin negara, khususnya terkait integritas penegakan hukum.

Dalam acara Panen Raya dan Pengumuman Swasembada Pangan di Karawang, Rabu (7/1/2026), Prabowo secara terbuka mengaku sering menghadapi godaan, termasuk upaya penyogokan dari berbagai pihak.

Baca Juga: Kumpulkan Menteri di Widya Chandra, Presiden Prabowo Beri Penugasan Khusus Awal Tahun 2026

Meskipun mendapat banyak tekanan dan permintaan khusus dari pelaku usaha nakal, Prabowo menegaskan komitmennya untuk tetap berpegang teguh pada konstitusi dan aturan yang berlaku.

“Saya setahun aja jadi presiden geleng-gelang kepala, saya berapa kali saya mau disogok, bolak balik datang minta ini minta itu. Tegakkan aturan, saya ga ikut yang lain-lain,” ujar Prabowo di hadapan peserta acara.

Tolak Lihat Daftar Pelanggar Demi Objektivitas

Dalam kesempatan tersebut, Prabowo menceritakan sebuah momen ketika ia disodorkan daftar puluhan perusahaan yang terancam dicabut izinnya karena melanggar regulasi.

Namun, Kepala Negara dengan tegas menolak untuk membaca atau mempelajari daftar tersebut.

Keputusan itu diambil bukan tanpa alasan. Prabowo mengaku khawatir jika ia melihat daftar tersebut, independensinya akan terganggu karena kemungkinan adanya nama teman atau kolega politik di dalamnya.

“Kemarin saya dikasih daftar ‘pak ini sekian puluh perusahaan yang melanggar yang mau dicabut izinnya, silakan bapak pelajari’, saya bilang saya nggak mau, karena saya takut ada teman saya di situ, ya kan, ga enak, takut saya bisa terpengaruh,” ujarnya.

Ia menyadari bahwa faktor kedekatan personal seringkali menjadi penghambat objektivitas. Oleh karena itu, ia memilih untuk tidak mengetahui identitas pihak-pihak yang melanggar agar proses hukum berjalan tanpa pandang bulu.