Faktakalbar.id, LIFESTYLE – Bagi sebagian orang, lagu “Always I’ll Care“ dari Jeremy Zucker mungkin terdengar sebagai lagu cinta sederhana yang easy listening.
Petikan gitar akustik yang lembut dan suara Jeremy yang lirih memang menenangkan.
Namun, bagi seorang perantau mahasiswa yang kuliah di luar pulau atau pekerja yang mengadu nasib di ibu kota lagu ini terdengar berbeda.
Lagu ini bukan tentang jatuh cinta, melainkan tentang bertahan menjaga koneksi.
Baca Juga: Lagi Homesick Berat? Ini 4 Cara Ampuh Mengobati Rindu Rumah bagi Anak Rantau
Ini adalah lagu tentang rasa bersalah karena pergi jauh, namun berjanji bahwa hati tidak akan pernah berubah.
Mari kita bedah realisasi lirik-liriknya terhadap kehidupan nyata seorang perantau:
1. “Driving down the interstate, I’ve never felt so far away”
(Mengemudi di jalan tol, aku tak pernah merasa sejauh ini)
Realisasi bagi Perantau:
Lirik ini menggambarkan momen awal keberangkatan atau saat kita sedang sendirian di perjalanan pulang kerja di kota orang.
Ada momen sunyi di mana realita menampar: “Aku benar-benar sendirian di sini. Rumahku jauh sekali.”
Jarak bukan lagi sekadar angka di Google Maps, tapi rasa asing (alienasi) yang menyerang saat kita melihat pemandangan kota yang bukan kampung halaman kita.
“Jauh” di sini adalah jauh dari zona nyaman dan pelukan orang tua.
2. “Promising that we would stay the same”
(Berjanji bahwa kita akan tetap sama)
Realisasi bagi Perantau:
Ingat janji Anda pada sahabat atau orang tua sebelum merantau? “Nanti aku sering telepon ya,” atau “Aku gak bakal berubah kok.”
Namun, realitanya, kesibukan kuliah atau tekanan pekerjaan seringkali mengubah kita.
Kita jadi jarang membalas pesan, lupa menelepon, dan perlahan merasa bersalah karena takut dianggap lupa kacang akan kulitnya.
Lirik ini adalah cerminan ketakutan setiap perantau akan perubahan hubungan akibat jarak.
3. “Whatever you do, I’ll be there”
(Apa pun yang kau lakukan, aku akan ada di sana)
- Realisasi bagi Perantau:
Ini adalah bagian paling tricky sekaligus menyentuh. Bagaimana bisa kita “ada di sana” sementara raga kita terpisah laut dan pulau?
Bagi perantau, “I’ll be there” bukan kehadiran fisik.
Realisasinya adalah:
- Mengangkat telepon ibu di tengah jam kerja yang sibuk.
- Mengirimkan kado ulang tahun lewat paket ekspedisi karena tidak bisa hadir langsung.
- Menjadi pendengar setia lewat video call saat sahabat di kampung sedang sedih.
Kehadiran fisik digantikan oleh kehadiran emosional yang totalitas.
















