Faktakalbar.id, NASIONAL – Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) merilis laporan terkini terkait perkembangan situasi bencana di Indonesia.
Berdasarkan data yang dihimpun selama periode Rabu (31/12/2025) pukul 07.00 WIB hingga Kamis (1/1/2026) pukul 07.00 WIB, tercatat ada lima kejadian bencana baru.
Baca Juga: Laporan Bencana BNPB: Angin Kencang di Jabar hingga Banjir Rob di Jateng
Mayoritas insiden tersebut merupakan bencana hidrometeorologi basah yang dipicu oleh tingginya curah hujan.
Laporan BNPB merinci sebaran kejadian baru tersebut di beberapa provinsi, mulai dari Pulau Jawa, Kalimantan, hingga Papua Pegunungan.
Sebaran Bencana di Jawa dan Kalimantan
Di Kota Cirebon, Jawa Barat, banjir sempat merendam pemukiman warga namun kini dilaporkan telah surut sepenuhnya.
“Di Kota Cirebon, Provinsi Jawa Barat, banjir terjadi dan berdampak pada sekitar 701 kepala keluarga atau 2.180 jiwa, dengan 701 unit rumah terdampak. Kondisi mutakhir menunjukkan banjir telah surut sepenuhnya dan warga mulai kembali beraktivitas,” tulis laporan BNPB.
Sementara itu, kondisi berbeda terjadi di Pulau Kalimantan. Banjir di Kabupaten Barito Timur, Kalimantan Tengah, berdampak pada 200 kepala keluarga dan hingga kini air belum surut.
Kenaikan debit air juga dilaporkan terjadi di Kabupaten Barito Selatan yang berdampak pada 4.251 kepala keluarga atau 13.392 jiwa.
Kejadian serupa melanda Kabupaten Tabalong, Kalimantan Selatan. Banjir merendam 1.351 unit rumah dengan ketinggian muka air bervariasi antara 9 hingga 70 sentimeter.
Baca Juga: Belajar dari Siklon Tropis Senyar, BNPB Perkuat Mitigasi Bencana Nataru di Daerah
Longsor di Papua dan Update Sumatera
Untuk wilayah Indonesia Timur, bencana banjir dan tanah longsor menerjang Kabupaten Jayawijaya, Provinsi Papua Pegunungan.
“Kejadian ini berdampak pada 75 kepala keluarga atau sekitar 300 jiwa yang mengungsi, serta 35 unit rumah terdampak. Hujan dengan intensitas tinggi masih terus terjadi di wilayah tersebut sehingga potensi bencana susulan masih perlu diwaspadai,” lanjut laporan tersebut.
Selain perkembangan situasi bencana baru, BNPB juga memutakhirkan data penanganan di wilayah terdampak parah seperti Aceh dan Sumatera Utara.
Di Kabupaten Bener Meriah, Aceh, banjir dan longsor mengakibatkan kerusakan infrastruktur masif sehingga pemerintah daerah memperpanjang status tanggap darurat.
Kondisi isolasi wilayah akibat putusnya akses jalan juga masih terjadi di beberapa titik di Aceh Selatan, Aceh Tenggara, hingga Aceh Utara.
Sedangkan di Sumatera Utara, akses jalan yang sebelumnya tertutup longsor kini telah berhasil dibuka kembali.
Imbauan Kewaspadaan
Menghadapi puncak musim hujan, BNPB meminta pemerintah daerah dan masyarakat untuk meningkatkan kesiapsiagaan terhadap potensi bencana susulan.
“Menghadapi puncak musim hujan, BNPB mengimbau pemerintah daerah dan masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi bencana hidrometeorologi basah, seperti banjir, banjir bandang, tanah longsor, dan angin kencang,” bunyi imbauan BNPB.
Masyarakat diharapkan aktif memantau informasi cuaca, menjaga kebersihan saluran air, dan menyiapkan rencana evakuasi mandiri untuk meminimalkan risiko.
Baca Juga: Kepala BNPB Suharyanto Minta BPBD Punya Wewenang Penuh Antisipasi Bencana Nataru
(*Red)
















