Sejarah dan Asal Usul Nama Pontianak

Tradisi Meriam Karbit di tepian Sungai Kapuas yang menjadi simbol sejarah berdirinya Kota Pontianak. (Dok. Ist)
Tradisi Meriam Karbit di tepian Sungai Kapuas yang menjadi simbol sejarah berdirinya Kota Pontianak. (Dok. Ist)

Faktakalbar.id, LIFESTYLE – Nama ibu kota Provinsi Kalimantan Barat ini memang unik dan sering dikaitkan dengan hal mistis. Bagi masyarakat luar, Pontianak kerap dihubungkan dengan hantu perempuan atau kuntilanak. Lantas, bagaimana sebenarnya sejarah penamaan kota ini?

Sejarah berdirinya Kota Pontianak tidak lepas dari sosok Sultan Syarif Abdurrahman Alkadrie. Berikut adalah fakta sejarah dan legenda di balik nama Pontianak.

Kisah bermula pada tahun 1771. Syarif Abdurrahman Alkadrie, putra ulama besar dari Mempawah, memimpin rombongan menyusuri Sungai Kapuas untuk mencari wilayah permukiman baru.

Baca Juga: Diduga 16 Kontainer Berisi Rotan Diselundupkan ke China Melalui Pelabuhan Dwikora Pontianak

Rombongan akhirnya tiba di persimpangan strategis pertemuan Sungai Kapuas dan Sungai Landak (kini kawasan Beting). Namun, upaya membuka lahan tidak berjalan mulus.

Menurut cerita rakyat, rombongan Syarif Abdurrahman kerap mendapat gangguan mistis saat malam. Suara-suara mengerikan yang diyakini berasal dari hantu Kuntilanak (atau Pontianak dalam bahasa Melayu) membuat mental pengikutnya ciut.

Meriam Pengusir Hantu

Menghadapi gangguan tersebut, Syarif Abdurrahman memerintahkan pasukannya membawa meriam karbit. Ia lantas menembakkan meriam ke arah hutan untuk mengusir suara-suara aneh tersebut.

Ia bersumpah bahwa di mana peluru meriam jatuh, di sanalah ia akan mendirikan pusat pemerintahan. Konon, peluru itu jatuh di lokasi yang kini menjadi Masjid Jami’ dan Istana Kadriah. Untuk mengenang peristiwa pengusiran hantu Pontianak itu, wilayah tersebut dinamai Pontianak.

Fakta Sejarah 1771

Terlepas dari legendanya, sejarah mencatat tanggal pasti berdirinya kota ini. Sultan Syarif Abdurrahman Alkadrie membuka hutan di persimpangan sungai pada hari Rabu, 23 Oktober 1771 (14 Rajab 1185 Hijriah).

Beliau mendirikan balai dan masjid sebagai pusat pemerintahan. Keberhasilan Syarif Abdurrahman membangun kota pelabuhan yang ramai menarik minat pedagang dari Tiongkok, Arab, hingga Belanda.

Baca Juga: Gasak Ponsel Jamaah Saat Subuh, Residivis Spesialis Pencurian di Masjid Jihad Pontianak Diringkus Polisi

Hingga kini, kisah meriam dan kuntilanak tetap hidup. Meriam karbit bahkan menjadi warisan budaya yang rutin dimainkan warga Pontianak setiap menyambut Idulfitri sebagai simbol sejarah.

(*Sari)