Mendirikan Gerakan Aceh Merdeka
Hasan di Tiro memproklamirkan berdirinya Front Pembebasan Nasional Aceh Sumatra, atau yang lebih dikenal sebagai Gerakan Aceh Merdeka (GAM), pada tanggal 4 Desember 1976.
Berbeda dengan pemberontakan Darul Islam yang ingin mengganti ideologi Pancasila dengan negara Islam, Hasan memilih tujuan kemerdekaan penuh. Ia mempertanyakan legitimasi Indonesia sebagai negara karena menganggapnya sebagai konstruksi kolonial Belanda yang menyatukan etnis-etnis berbeda. Hasan berambisi memulihkan status Aceh seperti masa pra-kolonial.
Dalam gerakannya, GAM melakukan serangan gerilya terhadap tentara dan polisi Indonesia. Organisasi ini juga menargetkan transmigran, khususnya etnis Jawa yang mereka anggap memiliki hubungan dekat dengan militer.
Pada tahun 1977, GAM melancarkan serangan yang menewaskan seorang insinyur Amerika Serikat serta melukai satu insinyur Amerika lain dan satu insinyur Korea Selatan.
Pasukan militer Indonesia merespons dengan memburu Hasan di Tiro. Dalam sebuah penyergapan, Hasan menderita luka tembak di kaki namun berhasil meloloskan diri ke Malaysia.
Pengasingan dan Perdamaian Helsinki
Sejak tahun 1980, Hasan memilih menetap di Stockholm, Swedia, dan memperoleh kewarganegaraan di sana. Selama di pengasingan, Zaini Abdullah yang kelak menjadi Gubernur Aceh. menjadi salah satu rekan terdekatnya.
Pemerintah Indonesia sempat tiga kali keliru menyatakan bahwa Hasan telah meninggal selama masa konflik. Namun, bencana Tsunami pada Desember 2004 membuka jalan perdamaian.
Hasan di Tiro menyetujui perjanjian damai yang ditandatangani di Helsinki, Finlandia, pada Agustus 2005. Sesuai kesepakatan tersebut, ia melepaskan tujuan separatisnya dan menyetujui pelucutan senjata GAM demi status otonomi khusus bagi Aceh.
Baca Juga: Rekam Jejak Sejarah Gerakan Aceh Merdeka
Setelah 30 tahun hidup di pengasingan, Hasan di Tiro kembali ke Banda Aceh pada 11 Oktober 2008. Meski sempat kembali ke Swedia karena alasan kesehatan, ia pulang lagi ke Aceh setahun kemudian dan menetap hingga akhir hayatnya.
Pemerintah Indonesia secara resmi memulihkan status kewarganegaraannya pada 2 Juni 2010 sebagai warga negara kehormatan. Sehari setelah menerima status tersebut, Hasan di Tiro wafat di rumah sakit di Banda Aceh pada 3 Juni 2010.
(*Sari)














