“Skrining kanker bisa dimanfaatkan untuk menilai risiko secara lebih presisi dan membantu deteksi serta perawatan lebih awal. Model AI terbukti lebih baik dibandingkan metode tradisional, tetapi pedoman klinis masih diperlukan agar bisa digunakan lebih luas,” ucap Eriksson.
AI Mampu Baca Pola Halus
Dalam pertemuan ilmiah European Society of Breast Imaging (EUSOBI), para peneliti memaparkan bahwa AI dapat berfungsi menilai risiko kanker dalam jangka waktu klinis yang lebih sempit.
Melansir Healthcare in Europe, AI memiliki kemampuan menganalisis mammografi dengan membaca pola-pola halus pada jaringan payudara yang mungkin luput dari pengamatan mata manusia.
Teknologi ini menjadi alat bantu vital untuk memberikan gambaran risiko yang lebih mendetail.
“Dalam tahap pasca perawatan, AI berpotensi membantu mengidentifikasi pasien yang tidak lagi memerlukan operasi atau radioterapi, sekaligus mengenali pasien berisiko tinggi yang membutuhkan penanganan lanjutan,” ujar Dr. Ritse Mann dari Radboud University Medical Center.
Bukan Pengganti Dokter
Meski menjanjikan, para ahli menegaskan penggunaan AI dalam skrining kanker payudara masih memerlukan penelitian lanjutan, termasuk uji klinis berskala besar.
Aspek psikologis juga menjadi perhatian utama. Penilaian risiko menggunakan AI dikhawatirkan dapat memicu kecemasan berlebih pada pasien.
Baca Juga: Ini Penyebab Kanker Payudara Hingga Cara Jitu Mencegahnya
Oleh sebab itu, komunikasi yang efektif antara pasien dan tenaga medis tetap menjadi kunci utama.
Para peneliti sepakat menempatkan AI bukan sebagai pengganti dokter, melainkan sebagai alat pendukung keputusan medis untuk deteksi kanker payudara yang lebih presisi di masa depan.
(*Sari)
















