Teknologi AI Tingkatkan Akurasi Deteksi Kanker Payudara

Ilustrasi - Simbol pita merah muda mengingatkan pentingnya deteksi dini untuk meningkatkan peluang kesembuhan pasien kanker payudara.
Ilustrasi - Simbol pita merah muda mengingatkan pentingnya deteksi dini untuk meningkatkan peluang kesembuhan pasien kanker payudara.

Faktakalbar.id, LIFESTYLE – Kanker payudara masih menjadi ancaman kesehatan utama bagi wanita di seluruh dunia. News Medical mencatat lebih dari 2,3 juta kasus baru terdiagnosis setiap tahunnya.

Melihat angka kasus yang terus bertambah, para peneliti menekankan pentingnya langkah pencegahan dan diagnosis yang tepat.

Namun, mammografi yang selama ini menjadi standar, dinilai mulai kurang efektif dalam menangkap risiko pada semua pasien seiring berjalannya waktu.

Menjawab tantangan tersebut, para ahli kini melirik potensi Artificial Intelligence (AI) atau kecerdasan buatan untuk membuat skrining atau deteksi kanker payudara menjadi lebih akurat.

Baca Juga: Waspada! Kulit Kering dan Gatal Bisa Jadi Gejala 8 Penyakit Serius, dari Ginjal hingga Kanker Darah

Celah pada Mammografi Konvensional

Penilaian risiko kanker payudara umumnya bergantung pada usia dan riwayat keluarga. Namun, data lapangan menunjukkan fakta berbeda.

Sebagian besar perempuan yang terdiagnosis justru tidak memiliki riwayat keluarga dengan penyakit serupa.

Selain itu, para ahli memperkirakan 15 hingga 45 persen kanker payudara masuk dalam kategori kanker interval, yakni kanker yang muncul di antara dua jadwal pemeriksaan rutin.

Artinya, hasil mammografi belum mampu menangkap seluruh kasus secara komprehensif.

Ahli epidemiologi dari Karolinska Institutet, Mikael Eriksson, PhD, menyebut metode penilaian risiko konvensional kurang cocok untuk semua perempuan.

Ketidaklengkapan data hingga isu akurasi mendorong peneliti mencari alternatif baru.

“Skrining kanker bisa dimanfaatkan untuk menilai risiko secara lebih presisi dan membantu deteksi serta perawatan lebih awal. Model AI terbukti lebih baik dibandingkan metode tradisional, tetapi pedoman klinis masih diperlukan agar bisa digunakan lebih luas,” ucap Eriksson.

AI Mampu Baca Pola Halus

Dalam pertemuan ilmiah European Society of Breast Imaging (EUSOBI), para peneliti memaparkan bahwa AI dapat berfungsi menilai risiko kanker dalam jangka waktu klinis yang lebih sempit.

Melansir Healthcare in Europe, AI memiliki kemampuan menganalisis mammografi dengan membaca pola-pola halus pada jaringan payudara yang mungkin luput dari pengamatan mata manusia.

Teknologi ini menjadi alat bantu vital untuk memberikan gambaran risiko yang lebih mendetail.

“Dalam tahap pasca perawatan, AI berpotensi membantu mengidentifikasi pasien yang tidak lagi memerlukan operasi atau radioterapi, sekaligus mengenali pasien berisiko tinggi yang membutuhkan penanganan lanjutan,” ujar Dr. Ritse Mann dari Radboud University Medical Center.

Bukan Pengganti Dokter

Meski menjanjikan, para ahli menegaskan penggunaan AI dalam skrining kanker payudara masih memerlukan penelitian lanjutan, termasuk uji klinis berskala besar.

Aspek psikologis juga menjadi perhatian utama. Penilaian risiko menggunakan AI dikhawatirkan dapat memicu kecemasan berlebih pada pasien.

Baca Juga: Ini Penyebab Kanker Payudara Hingga Cara Jitu Mencegahnya

Oleh sebab itu, komunikasi yang efektif antara pasien dan tenaga medis tetap menjadi kunci utama.

Para peneliti sepakat menempatkan AI bukan sebagai pengganti dokter, melainkan sebagai alat pendukung keputusan medis untuk deteksi kanker payudara yang lebih presisi di masa depan.

(*Sari)