Modernisasi Alutsista, Ini Deretan Senapan Serbu Andalan TNI Masa Depan

Prajurit TNI membidik sasaran menggunakan senapan serbu modern lansiran PT Pindad. TNI kini memperkuat jajaran persenjataannya dengan berbagai varian senapan serbu canggih berstandar NATO. (Dok. PT Pindad)
Prajurit TNI membidik sasaran menggunakan senapan serbu modern lansiran PT Pindad. TNI kini memperkuat jajaran persenjataannya dengan berbagai varian senapan serbu canggih berstandar NATO. (Dok. PT Pindad)

Faktakalbar.id, JAKARTA – Tentara Nasional Indonesia (TNI) terus melakukan modernisasi pada alat utama sistem senjata (alutsista), khususnya pada lini persenjataan perorangan.

Saat ini, terdapat tiga jenis senapan serbu utama yang diproyeksikan menjadi tulang punggung kekuatan infanteri TNI di masa depan, baik yang sudah aktif digunakan maupun dalam tahap pengembangan produksi.

Baca Juga: Lompatan Besar Pertahanan Laut, Frigate Merah Putih ‘KRI Balaputradewa-322’ Resmi Diluncurkan

Ketiga varian senjata tersebut adalah Pindad SS-3, Pindad SS2-V5 A1, dan varian Joint Production yang disebut sebagai RAI-160.

Kemandirian dan Kolaborasi Industri

PT Pindad (Persero) sebagai industri pertahanan dalam negeri memiliki peran sentral dengan dua produk andalannya.

Pertama adalah Pindad SS2-V5 A1, yang merupakan desain orisinal pengembangan dari seri SS2 sebelumnya.

Kedua adalah Pindad SS-3, senapan serbu canggih yang mengadopsi teknologi lisensi dari platform CAR816/HK-416.

Selain produk Pindad, terdapat pula RAI-160.

Baca Juga: Pindad Unjuk Gigi, Senapan Serbu Canggih SS3-M1 Curi Perhatian

Senjata ini merupakan hasil skema Joint Venture antara Republikorp melalui anak perusahaannya, Republik Armamen Industri, dengan mitra strategis untuk memproduksi senapan serbu ARX-160 di Indonesia.

Logistik Terpadu Satu Kaliber

Meskipun TNI mengadopsi berbagai jenis senapan dari pabrikan dan desain yang berbeda atau yang kerap disebut “gado-gado”, efisiensi logistik pertempuran tetap menjadi prioritas utama.

Seluruh varian senapan serbu modern ini dipastikan menggunakan standar amunisi yang sama.

“Walaupun seharusnya jika mengikuti banyak negara keseragaman senjata itu penting, senjata kita ini cukup gado gado. Tapi yang penting kaliber nya sama semua yaitu 5.56x45mm NATO,” tulis keterangan pemerhati alutsista tersebut.

Langkah ini dinilai strategis untuk memastikan interoperabilitas antar-satuan dan kemudahan distribusi amunisi di medan operasi, sembari tetap membuka ruang bagi industri pertahanan nasional untuk menyerap teknologi senjata terbaik dari berbagai sumber.

(ra)