Meskipun bahagia, ada kecemasan bawah sadar terkait teknis perjalanan.
Ketakutan seperti terlambat bangun, ketinggalan pesawat/kapal, barang tertinggal, atau kemacetan di jalan sering kali menghantui.
Otak secara tidak sadar tetap “menjaga” Anda agar tidak tidur terlalu nyenyak demi memastikan Anda bangun tepat waktu.
4. Perubahan Rutinitas Mendadak
Menjelang hari kepulangan, biasanya rutinitas kita berubah.
Mungkin Anda begadang untuk packing (berkemas), menyelesaikan pekerjaan kantor yang menumpuk agar bisa cuti dengan tenang, atau makan malam lebih larut.
Gangguan pada ritme sirkadian (jam biologis tubuh) ini membuat tubuh bingung kapan harus memproduksi hormon melatonin (hormon tidur).
5. Beban Ekspektasi
Bertemu keluarga setelah sekian lama sering kali membawa beban ekspektasi.
Ada keinginan agar pertemuan berjalan sempurna tanpa cacat.
Bagi sebagian orang, ada juga rasa gugup menghadapi pertanyaan-pertanyaan khas keluarga besar.
Campuran antara rasa rindu dan sedikit rasa gugup ini menciptakan ketegangan otot yang menghambat tidur nyenyak.
Tips Singkat:
Jika ini terjadi, jangan memaksa diri untuk tidur karena justru akan membuat semakin stres.
Cobalah lakukan teknik pernapasan 4-7-8, jauhkan ponsel (karena blue light menghambat melatonin), dan yakinkan diri bahwa “Segala persiapan sudah selesai, saatnya istirahat untuk hari esok yang indah.”
Baca Juga: Rasa Rindu di Setiap Sendok: 5 Masakan Mama yang Cocok untuk Mengobati Homesick
(*Mira)
















