Gelisah Bahagia? Ini 5 Alasan Kenapa Kita Sulit Tidur Jelang Bertemu Keluarga

"Mau pulang kampung tapi malah susah tidur? Jangan panik. Simak 5 alasan psikologis kenapa kita sering insomnia saat mendekati hari bahagia bertemu keluarga."
Mau pulang kampung tapi malah susah tidur? Jangan panik. Simak 5 alasan psikologis kenapa kita sering insomnia saat mendekati hari bahagia bertemu keluarga. (Dok. Ist)

Faktakalbar.id, LIFESTYLE – Pernahkah Anda mengalami situasi ini: Koper sudah rapi, tiket perjalanan sudah di tangan, dan besok adalah hari keberangkatan untuk pulang menemui keluarga.

Namun, saat tubuh dibaringkan, mata justru menolak untuk terpejam hingga dini hari.

Padahal tubuh terasa lelah setelah berkemas, tetapi pikiran justru melayang kemana-mana. Tenang, Anda tidak sendirian.

Fenomena ini sangat umum dialami oleh para perantau atau siapapun yang menantikan momen besar.

Baca Juga: Lagi Homesick? Ini 5 Film Terbaik yang Ampuh Obati Rasa Kangen Rumah

Kondisi ini sering disebut sebagai Pre-trip Insomnia atau kecemasan pra-perjalanan.

Lantas, apa sebenarnya yang terjadi pada tubuh dan otak kita saat mendekati hari bahagia tersebut? Berikut 5 alasannya:

1. Lonjakan Adrenalin dan Dopamin (Eustress)

Stres tidak selamanya buruk.

Ada yang disebut Eustress, yaitu stres positif yang muncul karena perasaan gembira atau antusiasme berlebihan.

Saat Anda membayangkan pelukan orang tua atau masakan ibu yang sudah lama dirindukan, otak melepaskan hormon dopamin dan adrenalin.

Hormon ini membuat jantung berdetak sedikit lebih cepat dan otak menjadi sangat waspada. Akibatnya, tubuh menganggap Anda sedang dalam mode “siaga” dan sulit untuk masuk ke fase rileks yang dibutuhkan untuk tidur.

2. Otak Sibuk Memutar Skenario (Visualizing)

Saat rindu memuncak, otak cenderung memproyeksikan masa depan.

Tanpa sadar, Anda mulai menyusun skenario pertemuan: “Nanti sampai bandara jam berapa ya?”, “Apa kalimat pertama yang mau diucapkan?”, atau “Oleh-olehnya cukup tidak ya?”.

Aktivitas mental yang intens ini membuat gelombang otak tetap berada di frekuensi Beta (sadar penuh), sehingga sulit turun ke frekuensi Alpha atau Theta yang dibutuhkan untuk terlelap.

3. Kecemasan Logistik (Travel Anxiety)