Opini  

Sering Dikira Kota Nasrani Karena Namanya, Ternyata Mandailing Natal 98% Muslim

"Sering dikira identik dengan perayaan Natal, ternyata 98% warga Mandailing Natal beragama Islam. Simak sejarah nama dan fakta unik Kabupaten Madina di sini."
Sering dikira identik dengan perayaan Natal, ternyata 98% warga Mandailing Natal beragama Islam. Simak sejarah nama dan fakta unik Kabupaten Madina di sini. (Dok. Ist)

Gordang Sambilan, ikon Mandailing itu, ditabuh bukan untuk hiburan semata, tapi untuk memanggil nilai, doa, dan ingatan kolektif.

Sekali gordang berbunyi, orang tahu, ini bukan sekadar acara, ini peristiwa. Horas ma hita sude, kata adat membuka kebersamaan.

Lalu soal nama yang sering bikin salah paham itu: Mandailing Natal.

Mandailing berasal dari kisah panjang tentang “kehilangan ibu”, tentang pergeseran garis keturunan, tentang keberanian membentuk identitas sendiri.

Bukan kisah sedih, tapi kisah dewasa.

Sementara “Natal” adalah nama tempat, sudah disebut sejak Negarakertagama abad ke-14.

Ia ada sebelum kalender gerejawi diperdebatkan di media sosial. Ini Natal yang lahir dari peta, bukan dari misa.

Dang adong hubunganna dohot pesta agama, sama sekali tidak ada kaitannya.

Sekarang fakta yang sering membuat orang kota terdiam seperti salah kirim pesan: lebih dari 98 persen warga Mandailing Natal beragama Islam.

Ya, hampir seluruhnya.

Masjid di sini jumlahnya ribuan.

Dari yang tua dengan kayu hitam berusia ratusan tahun, sampai musala kecil di ujung kebun karet.

Azan bukan sekadar penanda waktu, tapi penanda hidup. Islam di Mandailing bukan simbol, tapi nafas.

Dari adat perkawinan sampai musyawarah kampung, nilai agama mengalir tanpa perlu diteriakkan.

Umat Kristen dan Katolik ada, minoritas, dan hidup berdampingan tanpa perlu spanduk toleransi yang kebesaran.

Tidak ada yang merasa terancam, tidak ada yang merasa paling benar. Di sini, rukun bukan jargon, tapi kebiasaan.

Sai marsiadapari do hita, saling menghormati, karena hidup terlalu singkat untuk ribut soal nama daerah.

Masjid Raya Panyabungan berdiri seperti saksi zaman.

Musala-musala kecil tersebar seperti titik-titik doa di peta.

Gordang Sambilan kadang mengiringi acara adat yang sarat nilai Islam, membuktikan bahwa budaya dan iman tidak selalu harus dipisahkan dengan pagar tinggi.

So, Mandailing Natal bukanlah ironi.

Ia hanya korban salah paham massal.

Seperti kopi Mandailing yang pahit di awal tapi kaya di akhir, daerah ini perlu diseruput pelan.

Jangan cuma baca namanya, pahami ceritanya.

Karena Mandailing Natal bukan tentang Natal yang kalian kira, tapi tentang Mandailing yang panjang sejarahnya, dalam budayanya, dalam imannya, dan dalam keteguhan warganya menjaga jati diri. Songon i do Madina.

Baca Juga: Jelang Natal, Aston Pontianak Hotel & Convention Center Gelar Aksi CSR di Panti Asuhan Bhakti Luhur

(Rosadi)