Tambang dibuka. Datanglah 200 buruh Tionghoa, 8 manajer Eropa, 5 polisi Sikh, dan sejumlah kecil orang Melayu.
Fosfat membuat pulau kecil ini mendadak seksi secara geopolitik. Pada Perang Dunia II (1939–1945), Jepang mengincar fosfatnya.
Para pekerja bahkan dievakuasi hingga Perth dan Surabaya.
Usai perang, Inggris melemah. Australia mengajukan permintaan. Demi lepasnya hak pengelolaan fosfat, Australia rela membayar 20 juta dolar kepada Singapura.
Maka keluarlah Undang-Undang Pulau Natal Britania Raya, 14 Mei 1958, dan sejak 1 Oktober 1958, Pulau Natal resmi di bawah Australia.
Para imigran, termasuk Muslim, terus berjuang mendapatkan kewarganegaraan. Azan pun menetap.
Tapi tunggu.
Drama Pulau Natal belum selesai tanpa 50 juta kepiting merah. Ya, sekitar 50 juta. Setiap awal musim hujan (Oktober–Desember) terutama sekitar 22–24 November dan 21–23 Desember jutaan kepiting bermigrasi sejauh ±8 kilometer menuju laut. Perjalanan ini makan waktu 5–7 hari.
Jalan macet. Mobil mengalah. Manusia turun tangan, memindahkan kepiting satu per satu. Negara pun menyerah dengan elegan, dibuat jalur khusus kepiting, bahkan penutupan jalan demi keselamatan mereka.
Setelah kawin, kepiting jantan pulang duluan. Betina tinggal di pantai sekitar dua pekan, bertelur hingga 100.000 butir.
Larva tinggal di laut 3–4 minggu, lalu kembali ke hutan.
Ada sekitar 14 spesies kepiting darat di pulau ini, hidup dari daun gugur, buah, bunga, bangkai, hingga biji-bijian.
Turis datang dari seluruh dunia untuk menyaksikan migrasi ini, berfoto di tengah hamparan merah yang terasa seperti kiamat ekologis versi tertib.
Pulau Natal mengajarkan satu pelajaran besar: nama tidak selalu mewakili isi. Yang bernama Natal bisa bersahabat dengan azan.
Yang kecil bisa menentukan sejarah. Kadang, justru kepitinglah yang paling patuh pada rambu-rambu kehidupan.
“Libur Natal nanti ke mana, Bang?”
“Saya nak nunggu Pak Gub kite open house atau natalan ke rumah Pak Wagub, jak.” Ups.
Baca Juga: Sering Dikira Kota Nasrani Karena Namanya, Ternyata Mandailing Natal 98% Muslim
(Penulis: Rosadi Jamani)
















