Opini  

Mengenal Pulau Natal: Berbendera Australia, Penduduk Melayu-Tionghoa, dan Suara Azan yang Akrab

"Bernama Pulau Natal (Christmas Island), tapi penduduknya mayoritas Melayu-Tionghoa dan 19% Muslim. Simak fakta unik pulau tetangga Indonesia berbendera Australia ini."
Bernama Pulau Natal (Christmas Island), tapi penduduknya mayoritas Melayu-Tionghoa dan 19% Muslim. Simak fakta unik pulau tetangga Indonesia berbendera Australia ini. (Dok. Ist)

Faktakalbar.id, OPINI – Natal sebentar lagi.

Lonceng berdentang, Santa dipanggil-panggil, dan diskon akhir tahun terasa seperti wahyu. Tapi tunggu dulu.

Di belahan selatan Samudra Hindia, ada sebuah pulau yang namanya Natal, benderanya Australia, tetangganya Indonesia, penduduknya Melayu–Tionghoa, dan azannya terdengar lebih akrab dari “Jingle Bells”.

Selamat datang di Pulau Natal (Christmas Island), sebuah plot twist geografis yang bikin atlas dunia tersedak Koptagul. Simak narasinya sambil santai di teras rumah, wak!

Pulau ini milik Australia, tapi jaraknya ke Pulau Jawa hanya sekitar 350 kilometer. Ke daratan Australia? Lebih dari 1.500 kilometer.

Baca Juga: Ratusan Jemaat GKNI Rantau Panjang Khusyuk Ibadah Natal dalam Penjagaan Ketat TNI-Polri

Kalau jarak adalah rasa, Pulau Natal itu sambal terasi, jelas-jelas Nusantara aromanya. Namun urusan paspor tetap Australia. Ironi? Bukan. Ini epik.

Pulau Natal berada di Samudra Hindia dan baru “ramai” pada abad ke-19.

Tahun 2021, jumlah penduduknya sekitar 1.092 jiwa, mayoritas bermukim di pesisir utara. Komposisinya campur aduk.

Keturunan Tionghoa, Melayu, dan Eropa Australia.

Dari sini lahir fakta yang bikin orang bertepuk tangan imajiner, sekitar 19,4% penduduknya Muslim. Di pulau bernama Natal. Tepuk tangan. Musik masuk.

Asal-usul namanya sederhana dan sangat Eropa.

Tahun 1643, seorang kapten Inggris bernama William Mynors melintas tepat pada Hari Natal.

Karena pelaut abad ke-17 hobi menamai pulau sesuai kalender, jadilah Christmas Island.

Padahal, pulau ini sudah diketahui sejak 1516 oleh pelaut Eropa, dan sejak awal abad ke-17 masuk peta navigasi Inggris–Belanda.

Namun baru 1666, kartografer Belanda Pieter Goos memasukkannya resmi ke peta. Selebihnya? Menunggu nasib.

Nasib itu datang dalam bentuk fosfat.

Tahun 1888, Inggris menganeksasi Pulau Natal.