Masihkah Relevan? Membedah Wajah Pendidikan Indonesia Lewat Kacamata “Pendidikan Kaum Tertindas”

"Apakah sekolah kita masih mencetak "robot"? Simak analisis sistem pendidikan Indonesia melalui perspektif Paulo Freire dalam buku Pendidikan Kaum Tertindas."
Apakah sekolah kita masih mencetak "robot"? Simak analisis sistem pendidikan Indonesia melalui perspektif Paulo Freire dalam buku Pendidikan Kaum Tertindas. (Dok. Ist)

Faktakalbar.id, LIFESTYLE – Pernahkah Anda duduk di dalam kelas, mencatat apa yang didiktekan guru sampai tangan pegal, menghafal rumus tanpa tahu penggunaannya, dan dilarang membantah? Jika ya, tanpa sadar Anda sedang menjadi objek dari apa yang disebut Paulo Freire sebagai “Pendidikan Gaya Bank”.

Buku Pendidikan Kaum Tertindas (Pedagogy of the Oppressed) karya filsuf Brasil, Paulo Freire, yang terbit pertama kali pada tahun 1968, hingga kini masih menjadi “kitab suci” bagi mereka yang gelisah dengan sistem pengajaran.

Lantas, bagaimana jika teori Freire ini kita letakkan di atas peta pendidikan Indonesia hari ini? Apakah sistem kita sudah membebaskan, atau masih melanggengkan penindasan secara halus? Berikut adalah beberapa poin kritisnya.

1. Kritik “Pendidikan Gaya Bank” (Banking Concept)

Baca Juga: Bukan Sekadar Mengajar: 5 Poin Mengguncang dari Buku ‘Pendidikan Kaum Tertindas’ Paulo Freire

Poin paling ikonik dari Freire adalah kritiknya terhadap Banking Concept of Education.

Dalam konsep ini, guru dianggap sebagai nasabah yang memiliki pengetahuan (uang), dan murid adalah celengan kosong.

Tugas guru adalah “mengisi” murid dengan deposit pengetahuan.

Relevansi di Indonesia:

Meski Kurikulum Merdeka mulai digalakkan, praktik “gaya bank” masih mengakar kuat di banyak sekolah.

Pembelajaran sering kali bersifat satu arah.

Murid dinilai berprestasi jika bisa memuntahkan kembali hafalan persis seperti buku teks saat ujian.

Ruang diskusi sering kali mati karena murid takut salah atau guru enggan dikritik.

Pendidikan kita masih sering terjebak pada transfer informasi, bukan pembentukan nalar kritis.

2. Relasi Guru-Murid yang Feodal

Freire menyoroti adanya kontradiksi antara guru dan murid. Guru adalah subjek (pelaku), murid adalah objek (penderita).

Guru tahu segalanya, murid tidak tahu apa-apa.

Relevansi di Indonesia:

Budaya ketimuran kita yang sangat menghormati orang tua/guru kadang disalahartikan menjadi feodalisme dalam kelas.

“Guru selalu benar” adalah dogma yang sulit dipatahkan.

Akibatnya, murid di Indonesia cenderung pasif, malu bertanya, dan takut mengemukakan pendapat yang berbeda.

Sistem ini, menurut Freire, melatih anak-anak untuk patuh pada otoritas tanpa bertanya, sebuah mentalitas yang berbahaya bagi demokrasi.