“Saya pernah punya pasien laki-laki 23 tahun, orang tua sehat, tidak ada hipertensi. Namun karena gaya hidup, merokok, pola makan, kurang olahraga, pembuluh darahnya membentuk plak dan akhirnya pecah,” ungkap dr. Dwi.
Ini menegaskan bahwa faktor umur bukan satu-satunya penyebab penyakit jantung koroner.
Batas Aman yang Disarankan
Kolesterol LDL (Low-Density Lipoprotein) atau “jahat” dapat menumpuk dan memicu plak di arteri. Sebaliknya, HDL (High-Density Lipoprotein) atau kolesterol baik membantu membersihkan LDL.
“Yang penting bukan sekadar kolesterol total, tapi LDL, HDL, dan trigliserida. LDL rendah, HDL tinggi, itu optimal,” jelas dr. Dwi.
Batas aman yang disarankan untuk orang sehat:
-
LDL: Kurang dari 100 mg/dL
-
HDL: Sama dengan atau lebih dari 60 mg/dL
-
Trigliserida: Kurang dari 150 mg/dL
-
Gula darah puasa: Kurang dari 100 mg/dL
-
Gula darah sewaktu: Kurang dari 140 mg/dL
Gejala yang Sering Terabaikan (Tanda Awal)
Baca Juga: Bukan Jalan Santai, Ini Syarat Jalan Kaki yang Direkomendasikan untuk Jaga Kesehatan Jantung
Serangan jantung tidak selalu terasa nyeri hebat. Beberapa tanda awal yang sering diabaikan meliputi:
-
Napas terasa pendek saat beraktivitas ringan
-
Dada terasa berat sementara, kemudian membaik setelah istirahat
-
Cepat lelah meski aktivitas ringan
-
Jantung berdebar atau tidak teratur
Pencegahan dan Deteksi Dini
Dokter Dwi menekankan pentingnya pemeriksaan rutin dan pengelolaan risiko:
-
Cek kolesterol, gula darah, dan tekanan darah secara berkala
-
Olahraga minimal 150 menit per minggu
-
Mengatur pola makan rendah lemak trans dan gula tambahan
-
Berhenti merokok
-
Mengelola stres dan tidur cukup
“Silent killer ini berjalan lama, tapi kita bisa cegah dengan hidup sehat dan screening rutin. Jangan tunggu gejala muncul,” saran dr. Dwi.
(*Drw)
















