Opini  

Ekonomi Kerakyatan dari Desa: Arsitektur Baru Pangan Indonesia

"Silaknas-ICMI-BALI"
Pembukaan Silaknas dan Milad ke-35 ICMI di Bali, (Senin, 8/12/2025). Dok. Nusa Bali

OPINI – Pada penutupan Silaknas dan Milad ke-35 ICMI di Bali, Menteri Koordinator yang juga mantan Menteri Perdagangan, Zulkifli Hasan, menyampaikan pidato yang menggugah sekaligus menggelitik kesadaran kita tentang arah baru pembangunan nasional.

Ia tidak berbicara dalam bahasa teknis, tetapi dengan logika sederhana yang selama ini sering luput dari kerangka kebijakan: bahwa kedaulatan pangan, keadilan ekonomi, dan masa depan bangsa sesungguhnya bertumpu pada desa.

Di hadapan tokoh nasional seperti Ketua DPD RI Sultan B. Najamudin, Prof. Jimly Asshiddiqie, Prof. Ilham Habibie, dan Ketua Umum ICMI Prof. Arief Satria, Zulhas memaparkan gagasan yang melampaui sekadar laporan kerja.

Ia seperti sedang merumuskan kembali fondasi ekonomi Indonesia sebuah arsitektur yang menempatkan rakyat, terutama petani, nelayan, dan peternak, sebagai subjek pembangunan.

Kedaulatan Pangan: Dari Ketidakmungkinan ke Kenyataan

Zulhas membuka sambutannya dengan refleksi yang jujur:

“Banyak yang mengatakan tidak mungkin memberi makan 82,9 juta orang. Tidak mungkin suasembada. Tapi kita buktikan.”
Fakta yang ia hadirkan memperkuat klaim tersebut. Tahun lalu Indonesia mengimpor 4,5 juta ton beras. Tahun ini impor beras turun menjadi nol. Produksi naik dari 30 juta ton menjadi 34,7 juta ton sehingga menghasilkan surplus 4,7 juta ton. Jagung pun meningkat hampir 10 persen. Prestasi ini tidak terjadi secara kebetulan. Ia lahir dari keberanian politik memperbaiki irigasi, menjaga harga gabah, dan memperlakukan petani sebagai aset strategis.

Di sinilah poin besar Zulhas:

kedaulatan pangan bukan isu teknis, melainkan keputusan politik.
Ia menjadi dasar bagi roda pembangunan berikutnya, yakni penguatan desa sebagai pusat produksi.

Baca Juga: Sutarmidji: “Opini dengan Data Jawab Penilaian Negatif Tentang Perkebunan Sawit”

Koperasi Desa Merah Putih: Dari Desa Kita Bangkit

Salah satu gagasan paling inovatif dalam pidato Zulhas adalah pembentukan:

  • Koperasi Desa Merah Putih, dan
  • Koperasi Desa Telur Merah Putih

Kedua lembaga ini dirancang sebagai “jantung ekonomi desa”. Mereka akan menyerap semua produk rakyat: telur, jagung, gabah, ikan, dan komoditas lain. Sistem ini diperkuat oleh Kopjet, koperasi jejaring nasional yang berfungsi sebagai off-taker.
Struktur kerja sama itu sederhana tetapi revolusioner:

Desa memproduksi → Koperasi Merah Putih mengumpulkan → Kopjet menyerap → Kopjet bekerja sama dengan Bulog dan SPPG untuk distribusi nasional.

Dengan skema ini, desa tidak lagi berdiri sendirian menghadapi pasar. Mereka memiliki jaminan pembeli, harga stabil, dan akses distribusi. Zulhas menyampaikan pesan yang sangat fundamental:

“Ekonomi rakyat hanya tumbuh jika rantai pasok dipotong dan nilai dikembalikan ke desa.”

Memutus Rantai Pasok: Menumbangkan Kekuasaan Tengkulak

Selama puluhan tahun, para petani dan nelayan hidup dalam paradoks:

mereka menjual murah,

tetapi konsumen membayar mahal,