Jangan Terjebak! Ini 5 Bahaya Tersembunyi Jika Terlalu Sering Memvalidasi Perasaan Tanpa Logika

"Validasi emosi itu penting, tapi jika berlebihan justru jadi bumerang bagi mental. Simak 5 dampak negatif terjebak dalam perasaan sendiri yang bisa menghambat kemajuan hidupmu."
Validasi emosi itu penting, tapi jika berlebihan justru jadi bumerang bagi mental. Simak 5 dampak negatif terjebak dalam perasaan sendiri yang bisa menghambat kemajuan hidupmu. (Dok. Ist)

Jika setiap ketidaknyamanan kecil (seperti bosan, cemas sedikit, atau tersinggung) langsung divalidasi sebagai “masalah besar” yang harus dimaklumi, mental Anda menjadi rapuh.

Anda akan kehilangan kemampuan untuk bangkit (bounce back).

Dalam hidup, terkadang kita perlu berkata pada diri sendiri: “Oke, ini memang tidak enak, tapi aku harus tetap maju dan menyelesaikannya.”

Ketangguhan lahir dari kemampuan menoleransi ketidaknyamanan, bukan terus memakluminya.

5. Kecanduan Ruminasi (Memutar Ulang Pikiran Negatif)

Validasi tanpa batas sering kali berujung pada ruminasi kondisi di mana otak terus-menerus memutar ulang kejadian menyedihkan atau memalukan.

Alih-alih memproses emosi lalu melepaskannya (let go), Anda justru “mengunyah” emosi itu berulang kali atas nama validasi.

Hal ini justru meningkatkan risiko kecemasan dan depresi yang lebih dalam.

Fokus Anda terkunci pada masalah, bukan pada jalan keluar.

Memvalidasi perasaan adalah langkah awal yang krusial, tetapi tidak boleh menjadi tujuan akhir.

Rumus yang sehat adalah: Validasi + Aksi = Pertumbuhan.

Akui perasaanmu (“Aku sedih”), terima (“Gapapa sedih sebentar”), lalu tantang diri untuk bergerak (“Apa yang bisa kulakukan agar tidak sedih lagi?”).

Jangan biarkan perasaan menyetir kemudi hidupmu, letakkan logika kembali di kursi pengemudi.

Baca Juga: Bukan Tanpa Alasan, Ini 4 Penyebab Kita Sering Merasa Sedih Tiba-Tiba di Malam Hari

(*Mira)

Ikut berita menarik lainnya di Google News Faktakalbar.id