Opini  

Bencana Sebagai Ayat dan Cermin Bangsa

Muhammad Viki Riandi, Wakil Ketua Bidang Dakwah dan Pengkajian Agama Pimpinan Wilayah Pemuda Muhammadiyah Kalimantan Barat
Muhammad Viki Riandi, Wakil Ketua Bidang Dakwah dan Pengkajian Agama Pimpinan Wilayah Pemuda Muhammadiyah Kalimantan Barat. Foto: HO/Faktakalbar.id

OPINI – Gelombang bencana yang melanda Indonesia dalam beberapa hari terakhir seperti; badai ekstrem, tanah longsor, banjir bandang, gempa, erupsi, dan hingga kabar satwa yang keluar hutan karena kelaparan menghadirkan kembali satu ayat yang sejak lama kita baca, tetapi jarang kita resapi secara serius,

“Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).” (QS. Ar-Rum: 41)

Hampir semua mufasir sepakat, yang dimaksud dengan bimâ kasabat aydî al-nâs adalah kemaksiatan dan perbuatan dosa yang dikerjakan manusia.

Ditegaskan dalam ayat ini, perbuatan maksiat itulah yang menjadi penyebab terjadinya kerusakan nyata di daratan dan lautan. Ayat ini bukan sekadar pernyataan teologis. Ia adalah diagnosa ekologis yang nyata.

Baca Juga: Banjir dan Longsor Kepung Aceh hingga Sumut, Belasan Warga Meninggal

Kerusakan yang tampak hari ini merupakan konsekuensi pilihan kolektif yang kita buat sebagai sebuah bangsa, tata ruang yang dilanggar, hutan ditebang habis, pesisir dicemari, gunung dikeruk, habitat satwa dihancurkan, dan hukum lingkungan yang sering kali hanya tegak untuk yang lemah, yang hanya tajam kepada masyarakat biasa lebih-lebih mereka yang marjinal.

Ayat ini juga bukan semata ancaman, tetapi penjelasan faktual bahwa kerusakan tidak muncul tiba-tiba. Ia lahir dari keterputusan manusia dari prinsip amanah, keadilan, dan keseimbangan yang menjadi dasar penciptaan alam semesta.

Padahal kita ketahui bersama bahwa badai, hujan lebat, gempa bumi dan erupsi gunung berapi adalah peristiwa alam yang telah berlangsung jauh bahkan sebelum manusia hadir.

Yang mengubahnya menjadi bencana adalah cara kita memperlakukan bumi tanpa etika dan tanpa kesadaran bahwa bumi dan segala isinya adalah bagian dari amanah yang Allah Ta’ala berikan kepada manusia.

Pada masa kampanye lalu, wacana berkaitan dengan “tobat ekologis” sempat ramai dibicarakan. Namun setelah hiruk pikuk politik mereda, kesadaran itu memudar.

Padahal, tobat ekologis bukan sekadar slogan hijau, namun juga merupakan kesadaran kolektif kita tentang betapa pentingnya menjaga bumi ini. lalu komitmen untuk mengubah cara hidup, cara berproduksi, dan cara negara mengelola kuasa.

Indonesia sering gagah menyebut diri sebagai negara megabiodiversitas, tetapi masih sangat jauh dari kata baik dalam urusan tata kelola yang berhubungan dengan ekologi ini.

Analisis risiko bencana sering diabaikan, pengawasan lingkungan longgar, dan pelanggaran aturan kerap ditoleransi atas nama “investasi” atau “kepentingan strategis”.

Akhirnya, keuntungan jangka pendek dinikmati segelintir orang, sementara bencananya ditanggung seluruh rakyat.

Islam sebagai sebuah agama yang sangat dalam mengatur setiap aspek kehidupan ini, dengan jelas mengajarkan bahwa bencana tidak selalu berarti murka Allah Ta’ala, ia bisa menjadi peringatan, ujian, atau konsekuensi logis dari perilaku manusia.

Tetapi Al-Qur’an memberi isyarat bahaya yang lebih luas, yakni kerusakan ekologis berjalan seiring dengan kerusakan moral.

Dekadensi perilaku para pemimpin dan masyarakat menjadi bagian dari sebab turunnya bencana. Dekadensi perilaku para pemimpin dan masyarakat kini menjelma menjadi potret muram yang tak bisa lagi kita abaikan.

Dalam banyak kesempatan, bangsa ini seperti kehilangan kompas moralnya. Keteladanan publik yang seharusnya bersinar dari para pemangku amanah perlahan merosot hingga menjadi bayang-bayang samar.

Korupsi tak lagi sekadar pelanggaran hukum, tetapi telah menjelma tontonan yang berulang, seakan-akan bagian dari ritme kehidupan politik kita.

Kekerasan di panggung publik dinormalisasi, sering dirayakan sebagai “ketegasan”, padahal ia merusak ruang batin masyarakat.

Di ruang-ruang digital, perjudian dan pornografi berkembang tanpa batas, menjerat generasi muda dengan kecepatan yang tak pernah kita bayangkan.

Tubuh manusia dieksploitasi sebagai komoditas, dijadikan umpan algoritma untuk memancing tontonan dan keuntungan. Bahkan penghinaan, sinisme, dan caci-maki diproduksi dan dikonsumsi seolah-olah elemen hiburan yang sah. Nilai-nilai luhur hilang ditelan gelombang konten instan yang mengejar sensasi.

Ikut berita menarik lainnya di Google News Faktakalbar.id