Waspada! 6 Kesalahan Pola Asuh Ini Bikin Anak Tumbuh Jadi Sosok yang Merasa Selalu Benar

"Berniat menumbuhkan kepercayaan diri, orang tua justru sering terjebak membesarkan anak yang narsistik dan anti-kritik. Simak 6 kesalahan pola asuh fatal yang membuat anak merasa selalu benar."
Berniat menumbuhkan kepercayaan diri, orang tua justru sering terjebak membesarkan anak yang narsistik dan anti-kritik. Simak 6 kesalahan pola asuh fatal yang membuat anak merasa selalu benar. (Dok. Ist)

Faktakalbar.id, LIFESTYLE – Setiap orang tua pasti menginginkan anaknya tumbuh menjadi pribadi yang percaya diri (confident) dan berani berpendapat.

Namun, ada garis tipis yang memisahkan antara kepercayaan diri yang sehat dengan arogansi atau sikap merasa paling benar (self-righteous).

Fenomena anak yang tidak mau disalahkan, anti-kritik, dan sulit meminta maaf sering kali bukan bawaan lahir, melainkan hasil dari pola asuh yang keliru selama bertahun-tahun.

Tanpa disadari, niat baik orang tua untuk “melindungi” anak justru menanamkan bibit egoisme.

Baca Juga: Pakar Parenting: Ingin Hubungan dengan Anak Membaik? Lunasi Dulu Hutang Pengasuhan

Agar tidak menyesal di kemudian hari, hindari 6 kesalahan fatal dalam membesarkan anak berikut ini.

1. Selalu Membela Anak, Bahkan Saat Dia Salah

Naluri orang tua adalah melindungi anak.

Namun, menjadi “pengacara” bagi anak setiap kali ia terlibat masalah dengan teman, guru, atau saudara adalah kesalahan besar.

Jika Anda selalu menyalahkan pihak lain (misalnya: “Ah, gurunya yang galak” atau “Temanmu yang nakal duluan”) tanpa mendengarkan fakta objektif, anak akan belajar bahwa dirinya adalah korban abadi.

Ia akan tumbuh dengan pola pikir bahwa dunia yang harus berubah untuknya, bukan dia yang harus beradaptasi atau memperbaiki diri.

2. “Lawnmower Parenting”: Menyingkirkan Semua Rintangan

Pernahkah Anda mengerjakan PR anak karena tidak tega melihatnya kesulitan?

Atau buru-buru mengganti mainannya yang rusak agar dia tidak menangis?

Gaya asuh Lawnmower Parenting ini “memangkas” semua kesulitan di depan anak agar hidupnya mulus.

Akibatnya, anak tidak pernah belajar menghadapi kegagalan.

Saat dewasa, ketika ia melakukan kesalahan, ia akan syok dan menolak mengakuinya karena selama ini ia dikondisikan untuk selalu “berhasil” dan “benar”.

3. Memberi Pujian pada Bakat, Bukan Usaha

Memuji anak itu baik, tapi perhatikan caranya.

Terlalu sering memuji dengan label statis seperti “Wah, kamu jenius!” atau “Kamu memang paling pintar!” dapat memicu Fixed Mindset.

Anak akan merasa status “pintar” itu adalah harga dirinya.

Ketika ia melakukan kesalahan, ia akan merasa status tersebut terancam.