Faktakalbar.id, LIFESTYLE – Bagi siapa pun yang berkecimpung di dunia pendidikan, aktivisme sosial, atau sekadar gemar membaca buku filsafat, nama Paulo Freire adalah legenda.
Bukunya yang berjudul Pendidikan Kaum Tertindas (judul asli: Pedagogy of the Oppressed) bukan sekadar buku teks, melainkan sebuah manifesto.
Diterbitkan pertama kali pada tahun 1968, buku ini mengkritik keras sistem pendidikan konvensional yang dianggap “mematikan” nalar kritis manusia.
Freire percaya bahwa pendidikan seharusnya menjadi alat perlawanan untuk memanusiakan manusia, bukan alat penindasan.
Baca Juga: Buka Mata, Buka Hati: 5 Buku Wajib Baca Selama Kampanye 16 HAKTP
Apa saja gagasan besarnya? Berikut adalah 5 poin penting dari buku Pendidikan Kaum Tertindas yang relevansinya tak lekang oleh waktu.
1. Kritik Terhadap “Sistem Bank” (Banking Concept of Education)
Ini adalah konsep paling populer dari Freire.
Ia mengkritik sistem pendidikan tradisional di mana guru dianggap sebagai orang yang “tahu segalanya” dan murid sebagai “wadah kosong” yang tidak tahu apa-apa.
Dalam sistem ini, guru “mendepositokan” (menabung) informasi ke kepala murid, dan murid hanya bertugas menerima, mencatat, dan menghafal tanpa daya kritis.
Freire menyebut ini sebagai alat penindasan karena mematikan kreativitas dan menjadikan siswa pasif, sehingga mudah dikendalikan oleh penguasa atau sistem.
2. Pendidikan Hadap Masalah (Problem-Posing Education)
Sebagai lawan dari sistem bank, Freire menawarkan konsep “Pendidikan Hadap Masalah”.
Dalam model ini, guru dan murid adalah mitra.
Tidak ada lagi hierarki kaku.
Guru belajar dari murid, dan murid belajar dari guru lewat dialog.
Pendidikan dikaitkan dengan realitas kehidupan sehari-hari.
Siswa diajak untuk melihat masalah di sekeliling mereka (kemiskinan, ketidakadilan, lingkungan) sebagai objek kajian untuk dipecahkan bersama, bukan sekadar menghafal teori yang jauh dari kenyataan.
3. Penyadaran Kritis (Conscientization)
Tujuan utama pendidikan menurut Freire adalah Conscientization atau penyadaran kritis.
Pendidikan bukan hanya soal bisa membaca kata (literasi), tetapi juga “membaca dunia” (literasi sosial-politik).











