Kisah Pilu Randy: Bayi Orangutan Malnutrisi yang Diselamatkan dari Lokasi PETI

Tim medis YIARI dan BKSDA Kalbar saat melakukan pemeriksaan kesehatan awal terhadap Randy, bayi orangutan yang diselamatkan dari lokasi tambang ilegal di Ketapang.
Tim medis YIARI dan BKSDA Kalbar saat melakukan pemeriksaan kesehatan awal terhadap Randy, bayi orangutan yang diselamatkan dari lokasi tambang ilegal di Ketapang. Foto: HO/Faktakalbar.id

“Kasus seperti ini bukan hanya soal pelanggaran hukum karena memelihara satwa dilindungi. Yang jauh lebih menyedihkan adalah kenyataan bahwa hampir dapat dipastikan induk dari bayi orangutan ini telah dibunuh. Wilayah yang tertekan oleh aktivitas PETI sering kali menjadi titik rawan perburuan dan konflik satwa,” ungkap Silverius.

Ia menambahkan, hilangnya tutupan hutan memudahkan pemburu untuk menangkap bayi orangutan. Hal ini menjadi pukulan serius bagi konservasi karena orangutan memiliki laju reproduksi yang sangat lambat.

Baca Juga: Jojo, Orangutan 25 Tahun Rasakan Kebebasan di Enclosure Semi-Liar Ketapang

Namun, ia tetap mengapresiasi kesadaran warga yang akhirnya mau menyerahkan satwa tersebut.

Sementara itu, Kepala BKSDA Kalimantan Barat, Murlan Dameria Pane, memberikan apresiasi kepada masyarakat yang proaktif memberikan informasi.

“Pertama-tama kami mengucapkan terima kasih kepada masyarakat yang telah memberikan informasi keberadaan orangutan atau satwa liar dilindungi lainnya sehingga dapat kami rescue. Habitat orangutan telah terfragmentasi dan terdesak akibat berbagai aktivitas manusia sehingga diperlukan kerjasama semua pihak untuk menyelamatkan satwa liar agar dapat kita jaga kelestariannya,” ujar Murlan.

Ia berharap Randy dapat pulih sepenuhnya dari trauma fisik dan mental yang dialaminya.

“Semoga Randy yang baru berusia 2 tahun ini segera pulih kesehatan maupun traumanya sehingga dapat tumbuh dan berkembang dengan baik dan tidak ada lagi kekerasan terhadap orangutan dan satwa liar lainnya,” tutupnya.

(*Red)